From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
To: apakabar@clark.net
Subject: IN: Dialog Tentang Pelecehan Seksual
From: "SYSTEM 0PERATOR" <system@kalyana.nusa.or.id>
Date: Sat, 16 Dec 95 11:31:45 WIB
Organization: Kalyanamitra
*********************************************************************
Dialog tentang Pelecehan Seksual
Kerjasama
Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) dan
Yayasan Kalyanamitra
Sekretariat: Jln. Sebret No. 10 A, Ps. Minggu, Jakarta Selatan,
Telp/Fax: (021) 780 6683
====================================================================
Undangan
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Indonesia, 22 Desember 1995,
Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) bekerjasama dengan
Yayasan Kalyanamitra bermaksud menyelenggarakan "Dialog tentang
Pelecehan Seksual".
Acara akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 21 Desember 1995
Tempat : Gedung Trisula Permai,
Jln. Menteng Raya No. 35,
Jakarta Pusat
Waktu : Pukul 13.30 s/d 17.00 WIB
Narasumber:
Tumbu Saraswati, S.H. (pengacara); Syarifah Sabaroedin (kriminolog,
dosen kriminologi Universitas Indonesia); Myra Diarsi (aktivis Yayasan
Kalyanamitra); Oppie Andaresta (artis).
Acara ini akan dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, kaum profesional, ibu
rumah tangga dan masyarakat umum. Untuk terlibat dalam acara ini para
peserta tidak dipungut biaya.
***
MENGAPA ACARA INI?
Ketika membaca atau mendengar masalah pelecehan seksual banyak orang
merasa risih terhadap korban. Bukan simpati atau prihatin. Apa saja
tindakan si perempuan sehingga laki-laki berbuat demikian? Bagaimana
ia berdandan, bagaimana penampilannya?
Masalah pelecehan seksual dalam masyarakat belumlah dianggap suatu
persoalan yang serius, yang secara khusus dialami perempuan. Ini
terbukti dalam setiap kasus yang dituding sebagai penyebab justru si
perempuan. Karena perlakuan-perlakuan laki-laki dengan
mencolek/menyentuh, menyiuli perempuan yang sedang lewat misalnya,
dianggap suatu kewajaran. Kalau kemudian ada yang mempersoalkan
perlakuan-perlakuan tersebut sebagai gangguan, yang terjadi adalah
tudingan bahwa perempuan itulah yang justru memancing tindakan
tersebut. Penampilan, cara berbusana, cara berjalan si perempuan
dianggap menggoda. Kenapa perempuan? Dalam konteks masyarakat seperti
ini, perempuan ditempatkan sebagai objek seksual. Tubuh perempuan
diimagikan mempunyai daya tarik seksual yang kuat, khususnya buat
laki-laki.
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana-mana. Bukankah kita sering
mendengar teriakan-teriakan usil, komentar yang tidak sopan dengan
menyebutkan bagian-bagian tubuh tertentu perempuan, sentuhan-sentuhan
yang sengaja dilakukan, serta berbagai sikap lain yang mungkin saja
"hanya" berupa sebuah tatapan mata.
Namun karena begitu seringnya hal itu terjadi, maka kemudian tindakan
itu seakan-akan menjadi sesuatu yang biasa. Dianggap lumrah saja jika
seorang lelaki menggoda perempuan -- secara seksual -- tanpa peduli
apakah si perempuan senang atau tidak atas perlakuan tersebut. Itulah
sebabnya meskipun pelecehan seksual terjadi di mana-mana, pengakuan
dari korban dianggap aneh, membuka aib, dan mempermalukan dirinya.
Orang malah mempertanyakan apa yang telah dilakukan oleh korban dan
bukan pelaku. Seperti pengalaman pahit yang dialami DB dan HM,
mahasiswa dan pegawai sebuah perguruan tinggi di Jakarta; LH seorang
atlet nasional; Agt seorang sekretaris perusahaan swasta, maupun Znb
buruh sebuah pabrik. Para pelaku, yang adalah seorang rektor perguruan
tinggi swasta di Jakarta, seorang ketua organisasi olahraga nasional,
dan bossnya Znb mendapat dukungan untuk cuci tangan atas perbuatannya
yang tercela itu.
Berhasil disidangkannya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan
adalah suatu bukti keberanian perempuan. Namun jalan masih panjang dan
berliku. Tidak mudah menumbuhkan kesadaran bahwa perempuan berhak
diperlakukan dengan hormat dan dihargai dimanapun ia berada.
Karena itu kami menyelenggarakan dialog yang membuka kesempatan bagi
Anda untuk mendapatkan informasi lebih banyak, kemudian
memperbincangkan, membahasnya dan sekaligus melakukan sesuatu untuk
mencegah dan menanggulangi terjadinya pelecehan seksual.
APA TUJUANNYA?
Menumbuhkan empati masyarakat terhadap korban tindak Pelecehan Seksual
Bertambahnya pengetahuan tentang apa itu Pelecehan Seksual dan mengapa
terjadi Pelecehan Seksual
Bertambahnya pengetahuan tentang hal-hal praktis untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya Pelecehan Seksual
APA ACARANYA?
13.30 - 14.00 WIB
Penjualan sticker, t-shirt, buku, dll.
14.00 - 14.15
Pembukaan dan penjelasan tentang acara oleh ketua panitia
14.15 - 16.45 WIB
Pengantar oleh moderator Sita Aripurnami (Kalyanamitra)
Pengantar oleh Tumbu Saraswati
Pengantar oleh Syarifah Sabaroedin
Pengantar oleh Myra Diarsi
Pengantar oleh Oppie Andaresta
Forum Umum
16.45- 17.00 WIB
Penutupan
SIAPA NARASUMBERNYA?
Tumbu Saraswati
Pengacara yang terkenal menangani masalah-masalah perempuan;
perceraian, pelecehan seksual dan persoalan perempuan lainnya.
Syarifah Sabaroedin
Kriminolog, salah seorang pendiri Kalyanamitra. Sekarang mengajar di
Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia.
Myra Diarsi
Aktivis perempuan, salah seorang pendiri Kalyanamitra. Saat ini
bekerja sebagai staf Litbang Kalyanamitra.
Oppie Andaresta
Penyanyi terkenal. Lagu-lagunya menyoroti kehidupan sehari-hari
perempuan muda dengan segala persoalannya, dan mulai menyerukan
keadilan bagi perempuan.
-----------------------------------------------------------------------
Informasi hubungi Sdr. Sekar di kantor Kalyanamitra
Tel/Fax: (62-21) 780.6683
E-mail: kalyana@nusa.or.id
atau
Sdr. Nunung di kantor APIK
Tel: (62-21) 532.4241; Fax: (62-21) 530.7063
------------------------------------------------------------------------