IN: KMP - Suasana Feodal Bungkam De

From: apakabar@access.digex.net
Date: Thu Nov 16 1995 - 14:50:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: KMP - Suasana Feodal Bungkam Debat Nuklir

   (Kompas - Kamis, 16 Nopember 1995)
   
Suasana Feodal Bungkam Debat Nuklir

   Jakarta, Kompas
   
   Fisikawan Mohammad Santi Adji Sastroamidjojo PhD dari Universitas
   Gadjah Mada berpendapat, suasana feodal yang hingga kini masih kuat
   mengaktual telah membungkam kemungkinan debat terbuka antara Badan
   Tenaga Atom Nasional (Batan) dan masyarakat penentang pembangunan
   pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
   
   "Kalau lurah ke kiri, semua ke kiri. Lurah ke kanan, semua ke kanan.
   Masyarakat kita masih feodal," kata Sastroamidjojo saat membawakan
   topik Torium Pengganti Uranium untuk Tenaga Nuklir dalam sebuah
   diskusi di kantor Yayasan Obor Indonesia (YOI) Jakarta, Rabu 15
   November.
   
   Berbarengan dengan peluncuran buku Rencana Pembangunan PLTN di
   Indonesia, Sebuah Perbincangan terbitan YOI, diskusi dipandu wartawan
   yang sastrawan Mochtar Lubis.
   
   Hadir sekitar 20 peserta. Antara lain sastrawan Ramadhan KH yang
   menulis biografi Presiden Soeharto, fungsionaris Lembaga Bantuan Hukum
   (LBH) Amartiwi Saleh, serta dua pejabat Batan: Ir Adi Wardojo dan
   Soekarno Suyudi.
   
   Suasana feodal yang kuat itu diam-diam telah mengubah cara
   Sastroamidjojo bersikap menolak pembangunan PLTN berbahan uranium dan
   plutonium di Indonesia. Kalau dulu vokal eksplisit menyatakan
   menentang PLTN, kini fisikawan magister teknologi nuklir keluaran
   Universitas California Los Angeles dan doktor fisika zat padat lulusan
   Universitas Nasional Australia itu menentang PLTN dengan aktif
   mengembangkan dan menerapkan pembangkit listrik tenaga angin dan
   tenaga surya.
   
   "Sebab kalau saya ngomong langsung menolak, dikira nanti menentang
   progress. Aksi saya sekarang, mengatakan tenaga nuklir baik, tapi
   tenaga abadi dari angin, surya, dan makhluk hidup jauh lebih baik,"
   katanya.
   
   Sastroamidjojo mengingatkan, agar masyarakat awam jangan tertipu
   dengan suara-suara kelompok pro-pembangunan PLTN bahwa radiasi nuklir
   tidak berbahaya. Itu omong kosong. Sekali reaktor bocor, radiasinya
   tak dapat dibendung. Efeknya baru dapat dirasakan oleh manusia paling
   cepat setelah 20 tahun. Dengan masa paruh yang berorde dari ratusan
   sampai jutaan tahun, bahaya radiasi nuklir ini akan dirasakan dari
   generasi ke generasi.
   
   Bahaya radiasi nuklir dan limbah nuklir, kata Sastroamidjojo, dapat
   dilihat dari cara Australia menggali sumur sedalam 4.000 meter untuk
   menyimpan limbah nuklir. Sekitar 2.000 meter dari 4.000 meter itu
   untuk menyumbat radiasi.
   
   "Saya usulkan, kalau Indonesia mau bangun PLTN, biarlah dibangun di
   dalam sumur sedalam 4.000 meter. Reaktor bersama-sama manusia pekerja
   PLTN beserta keluarga mereka dimasukkan ke dalam sumur itu, ditutup,
   lalu dari sana dipasang dua kabel. Ini barangkali yang lebih aman,"
   katanya.
   
  Tak berkomentar
  
   
   
   Yang menarik dari presentasi kemarin itu, tak satu pun komentar kedua
   pejabat Batan yang hadir mengingkari pernyataan dan penjelasan
   Sastroamidjojo.
   
   Masuknya Sastroamidjojo dalam barisan penentang pembangunan PLTN di
   Indonesia, bersama ahli nuklir Dr Iwan Kurniawan dan fisikawan Prof Dr
   Parangtopo dari UI serta fisikawan inti Dr Liek Wilardjo dari UKSW
   dengan alasan masing-masing, memperlihatkan barisan ini tak hanya
   terdiri dari awam, tapi juga ilmuwan yang memahami teknologi reaktor
   nuklir serta bahayanya.
   
   Mochtar Lubis selaku pemandu mengatakan, biarlah upaya ilmuwan fisika
   dan nuklir untuk menjelaskan segi-segi negatif pemanfaatan energi
   nuklir serta upaya awam penentang nuklir menambah pemahaman mengenai
   tenaga nuklir ini suatu saat akan sampai pada pengertian bersama untuk
   mencari sumber-sumber energi yang berwajah kemanusiaan.
   
   Buku yang diluncurkan kemarin merupakan karya tiga orang berlatar
   antropologi, Dr PM Laksono, Drs Aris Arif Mundayat, dan Y Tri Subagya.
   Dua yang disebut pertama adalah dosen pada Jurusan Antropologi
   Fakultas Sastra UGM, dan yang terakhir disebut adalah mahasiswa
   mereka.
   
   Mencoba mempelajari berbagai pendapat pro dan kontra terhadap rencana
   pembangunan PLTN yang tersebar di berbagai media cetak dan melakukan
   penelitian lapangan dengan pendekatan antropologi, menanggapi rencana
   pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, ketiga penulis sependapat
   dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua Bappenas
   Ginandjar Kartasasmita.
   
   Dalam sebuah pidato bulan April lalu di Balai Senat UGM, Ginandjar
   berujar, "Dalam masyarakat yang makin maju, setiap pejabat harus siap
   menjelaskan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada
   publik. Dalam pada itu, sebaiknya kebijakan politik yang berdampak
   luas pada kehidupan rakyat dibahas secara terbuka sebelum ditetapkan.
   Pembahasan terbuka ini akan meningkatkan kualitas kebijakan dan
   menjamin perolehan dukungan masyarakat, seberapa berat pun
   konsekuensi-konsekuensinya bagi rakyat." Dalam catatan Kompas, usaha
   organisasi nonpemerintah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan
   Masyarakat Antinuklir Indonesia sepanjang tahun 1994-1995 untuk
   mengadakan debat terbuka bertopik pembangunan PLTN selalu digagalkan
   pihak kepolisian. Sementara diskusi yang diadakan Batan atau mahasiswa
   UI tentang topik sama dalam kurun waktu sama tidak mendapat halangan.
   
   Bulan Agustus 1994, Dirjen Batan Djali Ahimsa mengatakan, Batan
   berencana tahun 1996 mengadakan dengar pendapat umum untuk mengetahui
   sejauh mana publik bersikap terhadap rencana pemerintah Indonesia
   membangun PLTN. Dengar pendapat umum ini diadakan setelah Batan
   menerima hasil studi kelayakan tapak PLTN di Semenanjung Muria Jawa
   Tengah yang dijadwalkan tuntas tahun 1996. (sal)