Wasiat Mawas Diri

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jun 13 1995 - 11:21:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From nela%nusa@igc.apc.org Tue Jun 13 08:10 EDT 1995
To: John MacDougall <apakabar@clark.net>
From: nela@nusa.or.id (Nela Samosir)
Message-ID: <ycXm7c1w165w@nusa.or.id>
Date: Tue, 13 Jun 95 13:46:57 WIB
In-Reply-To: <199506122236.SAA24629@clark.net>
Organization: NusaNet - NGOs Networking System, Indonesia
Content-Type: text
Content-Length: 9455

     WASIAT MAWAS DIRI

     Melihat peranan dan sikap umat Indonesia saat ini yang
     dinilai tak lagi sesuai dengan tuntunan Al-Quran,
     beberapa ulama dan budayawan menelorkan Wasiat
     Muharram. Sebuah pernyataan politik yang tampil a-
     politik.
            Terik matahari menyengat di kompleks Pondok
     Pesantren As-Shiddiqiyyah. Tapi ratusan santri dan
     santriwati rata-rata masih remaja dengan tekun dan
     khusyu' duduk di mesjid besar di kawasan Kedoya,
     Jakarta Barat. Jum'at siang kemarin menjelang Ashar,
     dengan gegap gempita mereka mengumandangkan takbir
     berkali-kali. Allahu akbar. "Bulan Muharram adalah saat
     yang terbaik bagi kaum Muslimin untuk membahagiakan
     yatim piatu, fakir miskin, mereka yang hina dina dan
     papa karena korban pembangunan. Allahu Akbar. Kalau ada
     kampus perjuangan, maka As-Shiddiqiyyah adalah
     pesantren perjuangan," kata KH Nur Muhammad Iskandar SQ
     berapi-api disambut takbir para santri.
           Di sana tidak hanya ada santri, tapi juga ada dua
     orang budayawan: Haji Emha Ainun Nadjib dan Haji Wahyu
     Sulaiman Rendra. Hari itu, dalam suasana keagamaan
     yang mantap, diumumkan apa yang disebut Wasiat Muharram
     1416 sepanjang empat folio ketik rapat. Wasiat yang
     bertolak dari surat Al-'Ashr dalam Al-Quran, bermaksud
     menyampaikan "wasiat" yang makna aslinya "saling ingat-
     mengingatkan". Wasiat yang khusus ditujukan kepada umat
     Islam itu digodok di Padepokan Bengkel Teater Rendra,
     di Desa Cipayung (Depok, Bogor) - sengaja disampaikan
     pada 10 Muharram, yang bagi kaum Muslimin merupakan
     saat yang baik untuk mawas diri.
           Wasiat yang digagas oleh Emha Ainun Nadjib,
     Mochtar hasibuan dan Eggi Sudjana itu belakangan
     ditandatangani oleh sekitar 60 orang, antar lain KH
     Abdurrahman Wahid (PBNU), KH Nur Muhhamad Iskandar SQ
     (As-Shiddiqiyyah), Setiawan Djodi (pengusaha), Mohamad
     Sobary (Kolomnis), Rendra (budayawan), Sawung Jabo
     (musisi), Sitok Srengenge (penyair), Ulil Abshar
     Abdalla (Forum Santri), dan beberapa wartawan. Wasiat
     itu, yang tampil dengan kalimat-kalimat arif dan
     seolah-olah politik, sesungguhnya merupakan sebuah
     pernyataan poliytik meskipun para pengagas
     menyangkalnya.
           Dengan mengutip beberapa surat lain dalam Al-
     Quran, wasiat itu mengingatkan umat islam akan sembilan
     hal:

     ú Wasiat ini mewasiatkan agar umat Islam saling wasiat-
       mewasiati, bahwa budaya saling kritik dan saling kontrol
       adalah kewajiban dari Allah SWT melalui manusia, kelompok,
       organisasi atau kekuasaan yang antikontrol dan antikritik;
       serta jika siapapun lainnya membiarkan kebiasaan antikritik
       dan antikontrol maka semua itu berposisi menantang kekuasaan
       Allah SWT.

     ú Wasiat ini mewasiatkan kepada umat Islam agar saling
       memberi wasiat, bahwa asa persamaan dan metode ta'arruf
       tidak berarti mempersamakan sesuatu yang berbeda, umpamanya
       akidah yang memang tidak sama antara bermacam-macam agama.
       Ilmu ta'arruf ialah sebatas menyediakan ruang bagi kebenaran
       yang lain, yang diyakini oleh pihak lain, dan bukan
       merupakan ilmu yang benar untuk mengatkan "semua agama itu
       sama". Sebab kalau memang demikian, kenapa tidak disepakati
       untuk merundingkan "satu agama" saja dengan nama baru yang
       juga didiskusikan. Biarlah suatu kelompok meyakini bahwa
       yang dipeluknya adalah agama, sementara kelompok lainnya
       meyakioni bvahwa hanya yang dipeluknya itu sajalah yang sah
       disebut agama, sepanjang hal itu di batasi menjadi "aurat"
       masing-masing yang tidak dibenturkan atau dipertentangkan.

     ú Wasiat ini bermaksud mengingatkan umat Islam akan
       keteladanan Rasulullah Muhammad SAW yang Allah SWT sendiri
       menuturkannya: "Maka berkat rahmat Allah-lah engkau bersikap
       lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras
       dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darimu.
       Oleh karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi
       mereka, serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-
       urusan pergaulan keduniaan kalian" (Ali Imran;159)

     ú Melalui idiom firman yang lain (Al-Hujurat;1), wasiat
       ini mengingatkan agar tidak siapapun "mendahulukan tangannya
       didepan tangan Allah". Tidak menomor-satukan keperluan
       kekuasaan dirinya dan menomor-duakan otoritas hak dan nilai
       Allah dan Nabi-Nya. Maka hendaknya umat Islam saling ingat-
       mengingatkan agar asas kekuasaan atau prinsip otoritas
       semacam ini selalu diupayakan, dipelihara dan dikembangkan
       dalam setiap segi kehidupan mereka, terutama yang
       menyangkut nasib kehidupan orang banyak, misalnya lembaga
       negara, beserta birokrasi dan sistem nilai yang
       diterapkannya.

     ú Bahwa umat Islam tidak lagi punya kesempatan sejarah
       untuk menunda keharusan mendewasakan diri dalam arti yang
       seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Islam dan kaum Muslimin
       sudah tiba pada momentum zaman di mana keharusan semacam itu
       sudah mencapai titik optimal, sangat urgen dan bersifat
       fardlu kifayah. Umat Islam bukan hanya dituntut untuk
       sanggup menjelaskan Islam secara lebih jernih kepada dirinya
       sendiri, tetapi juga ditantang untuk mampu
       mengaktualisasikannya didalam tatanan danm modus-modus
       kenyataan sejarah. Umat Islam tidak bisa lagi emnunda
       kewajiban untuk menguakkan "hijab" suatu realitas sejarah
       dimana "cahaya Islam ditutupi oleh kegelapan kaum Muslimin".
       Tidak saja untuk memperpendek jarak antara kenyataan hidup
       mereka dengan nilai-nilai Islam; lebih dari itu juga untuk
       mengurangi kesalah-pahaman, fobi dan a priopri dunia
       nonIslam terhadap Islam dan kaum Muslimin.

     ú Wasiat paling pokok yang diwasiatkan oleh Wasiat ini
       adalah upaya penyadaran kembali dikalangan umat Islam
       terhadap hakikat wujud mahluk yang diciptakan oleh Allah
       SWT, serta dialektika dinamis di antara ketiga mahluk-Nya.
       Ketiga wujud mahluk itu ialah, pertama alam semesta; kedua
       manusia dan mehluk hidup lainnya; ketiga firman. Bahasa
       jelasnya; Bacalah alam semesta dengan menemukan cerminnya
       pada manusia dan firman. Bacalah manusia dengan menemukan
       pantulannya pada alam semesta dan firman. Bacalah firman
       dengan menemukan cerminnya pada alam semesta dan manusia.

     ú Wasiat ini mengingatkan bahwa Islam mengajarkan suatu
       methodologi budaya dan teknokrasi sejarah yang meletakkan
       pilar moral atau ahlak sebagai titik keberangkatan dan
       pembimbing utama pekerjaan sejarah manusia. Kebenaran ilmu
       pengetahuan dan gagasan-gagasan, lembaga-lembaga akal sehat,
       dikerjakan melalui bimbingan moral dan keindahan. Demikian
       karya-karya seni dikreatifi dengan kekuatan kebenaran ilmu
       dan tuntunan ahlak. Sebagaimana ahlak itu sendiri akan
       menemukan tulang punggung realitasnya jika bekerja sama
       dengan kebenaran ilmu, serta memancarkan cahaya wajahnya
       dengan kelembutan estetika. Wasiat ini diwasiatkan, pada
       mekanisme yang manakah kehidupan keluarga kita, organisasi
       kita, masyarakat dan negara kita telah menjunjung keutamaan
       kepemimpinan moral dan ahlak?.

     ú Wasiat ini mengajak umat Islam untuk mencari bukti sejarah
       bahwa jika keduniawian, harta dan kekuasaan dinomor satukan dan
       dijadikan tujuan, baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga
       dan sistem-sistem nilai sosial serta oleh garis-garis besar
       haluan pembangunan suatu Negara, maka produknya menurut Allah
       SWT adalah defisit-defisit dimana datang. Peradaban Hijri adalah
       peradaban dimana manusia menomor satukan Allah SWT, menomor
       duakan orang lain dan menomor tigakan diri sendiri. Adalah
       peradaban di mana manusia, organisasi sosial, kekuasaan politik,
       tatanan ekonomi, bangunan hukum dan gerak kebudayaan sadar
       dengan ber"muwajahah dengan Allah SWT. Adalah peradaban yang
       pelaku-pelakunya mengerjakan apa saja dengan kesadaran bahwa
       mereka selalu berhadapan wajah dengan Allah SWT.

     ú Wasiat ini berupaya membebaskan diri dari arti sosiologis kata
       "Wasiat" yang berindikasi feodalisme dan hirarkisme, dan kembali
       pada hikmah makna tawashau tindakan saling mewasiati yang penuh
       semangat persamaan diantara sesama hamba Allah SWY, apapun
       kedudukan sosialnya, derajat budaya dan asal usul kelompoknya.

 (Harian Media Indonesia, Minggu 11 Juni 1995)