Gatra - Demo Anti-Amerika

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Jun 01 1995 - 14:23:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From <@UBVM.CC.BUFFALO.EDU:owner-tumoutou@UNB.CA> Thu Jun 1 07:02 EDT 1995
X-Sender: nicojt@server.indo.net.id
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
Mime-Version: 1.0
X-PH: V4.2.1@hermes
Message-ID: <9506011043.AA25393@server.indo.net.id>
Date: Thu, 1 Jun 1995 17:43:07 +0700
Reply-To: Manado Mailing List <TUMOUTOU@UNB.CA>
Sender: Manado Mailing List <TUMOUTOU@UNB.CA>
From: "Nico J. Tampi" <username@SERVER.INDO.NET.ID>
Subject: Berita DEMO (GATRA 3 Jun.95)
To: Multiple recipients of list TUMOUTOU <TUMOUTOU@UNB.CA>
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Content-Length: 7540

Berita ini mungkin menarik buat kitorang simak. Jangang kuatir
DEMONSTRASI cuma getaran politik.
Malam bae or siang bae

nicojt

  Aksi, Setelah Membaca Dua Buku

  Ribuan massa Islam berdemonstrasi di berbagai kota. Bagaimana
  cara mengerahkan massa yang begitu besar?

  Aksi demonstrasi mengganyang Amerika berlangsung serentak di
  Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Medan, hari Senin dan
  Jumat pekan lalu. Ribuan massa melakukan aksi menyodok per-
  sekutuan Amerika Serikat dan Israel. Pergelaran ini dilakukan
  sebagai protes atas kesewenangan pemerintah Amerika Serikat
  yang memveto hasil resolusi Dewan Keamanan PBB yang mencegah
  Israel merampas 53 hektare tanah Palestina di Yerusalem Timur.

  Tak kurang dari seribu massa Islam yang tergabung dalam Front
  Solidaritas Palestina, misalnya, mendatangi kantor Konsulat
  Jenderal Amerika Serikat di Jalan Sutomo, Surabaya, Jumat lalu.

  Aksi serupa oleh mahasiswa di kantor Konsulat Jenderal
  Amerika Serikat di Medan
  di kampus Unisba, Bandung
  dan di
  kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta. "Kami mengutuk Amerika
  Serikat yang membela zionis," kata demonstran dari Badan Anti-
  Zionis Israel dan Sekutunya, Mahasiswa Muslim Medan (Bazis-M3)
  di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Medan, Senin pekan
  lalu. Pada hari yang sama kelompok Gempur AS (Gerakan Muslim
  Anti-Campur Tangan Amerika Serikat) melakukan aksi di kampus
  UGM Bulaksumur. Lima ratusan pemuda dan aktivis mahasiswa
  menyerukan yel-yel "anti-Amerika-Zionis" sambil memelintir
  bendera Amerika Serikat dan Israel ukuran satu kali satu
  setengah meter dan kemudian membakarnya secara beramai-ramai.

  Yang paling menarik terjadi di kantor Kedutaan Besar Amerika
  Serikat di Jakarta, juga pada hari Senin. Sekitar tujuh ribu
  massa tumplek menutup Jalan Merdeka Selatan, lokasi kantor
  Kedubes Amerika Serikat. Mereka adalah massa Islam yang
  tergabung dalam Front Anti-Israel Zionis (FAIZ).

  Agaknya inilah demonstrasi terbesar sepanjang dua tahun
  terakhir. Apalagi bila dibandingkan dengan demo yang digerakkan
  LSM yang belakangan ini sering terjadi, yang paling banyak
  diikuti ratusan demonstran. Aksi dengan massa terbatas seperti
  itu hanya bergaung berkat pemberitaan media massa.

  Mereka yang dikoordinasikan FAIZ tadi menuntut Amerika
  Serikat mencabut veto yang menguntungkan zionis. Sambil
  meneriakkan "Allahu akbar" massa mengajak umat Islam Indonesia
  untuk memboikot barang-barang Amerika Serikat. Aksi itu tentu
  saja mengejutkan aparat keamanan, dan juga para staf Kedutaan
  Besar Amerika Serikat. Siapa menduga tiba-tiba massa sudah
  tumpah sebanyak itu, padahal organisasi Islam seperti NU dan
  Muhammadiyah tak terlibat. Bagaimana mengorganisasikan massa
  yang begitu besar?

  Melalui penelusuran yang dilakukan wartawan Gatra Sapto
  Waluyo, diketahui bahwa FAIZ diketuai seorang pemuda, Teddy
  Mamesa, yang tinggal di pinggiran Jakarta. Pemuda asal Manado
  itu berteman dengan A. Ramdhan, tamatan ITB, yang boleh
  dikatakan sebagai arsitek demo. Ide demo itu muncul setelah
  membaca koran, Sabtu 20 Mei 1995, yang memberitakan
  demonstrasi ratusan orang ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di
  Jakarta, sehari sebelumnya. "Banyak orang yang punya pandangan
  sama. Cuma bagaimana cara mengartikulasikannya. Amerika itu
  harus diberi pelajaran. Sudah lama kami menahan dongkol," kata
  Teddy.

  Ramdhan yang senang membaca buku itu berulang kali membaca
  buku Fazlur Rahman, Muhammad Seorang Pemimpin Militer, dan buku
  Pokok-Pokok Gerilya, tulisan Jenderal (Purnawirawan) A.H. Nasu-
  tion. Maka demo itu pun mulai dirancang.

  Mereka mengadakan sebuah rapat kilat di sebuah tempat di luar
  Kota Jakarta, Sabtu itu juga. Hadir sepuluh orang. "Rapat itu
  bukan di vila. Kami ini orang pinggiran yang tidak punya bos,
  tapi juga nggak ada yang bisa menunggangi," kata Teddy. Dalam
  rapat itulah diputuskan hari H demo itu, Senin 22 Mei 1995,
  pukul 13.00 WIB. Artinya, mereka cuma punya waktu tersisa untuk
  mempersiapkan massa dua kali 24 jam.

  Maka dalam rapat itu ditunjuk delapan orang yang bertugas
  memobilisasikan massa di delapan wilayah: Jakarta Utara,
  Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat,
  Depok, Tangerang, dan Bekasi. Setiap wilayah dikenai kuota
  1.000 demonstran. Para demonstran diharuskan berpuasa sunah _
  kecuali yang sedang berhalangan berpuasa -- dengan maksud, kata
  Ramdhan, agar massa tak emosional dan lebih mudah dikendalikan.

  Pada Senin subuh, perkiraan jumlah peserta sudah di tangan
  mereka. Teddy memperlihatkan daftar peserta demo itu yang ter-
  catat rapi. Dari daftar itu diketahui mereka terdiri dari
  mahasiswa 10 perguruan tinggi di wilayah Jakarta, Bogor,
  Tangerang, Bekasi (Jabotabek), pelajar dari 20 SLA di kawasan
  itu, massa biasa dari 35 masjid dan musala, serta anggota
  sejumlah ormas Islam.

  Peserta demo dari wilayah Jakarta berangkat dengan meng-
  gunakan transportasi umum. Tak boleh memakai kendaraan pribadi.
  Kalau terpaksa memakai kendaraan pribadi, hanya boleh diantar-
  jemput. Sedangkan peserta dari luar Jakarta dikumpulkan di tiga
  tempat transit. Peserta dari Depok berkumpul di Stasiun Kereta
  Api Gambir, massa dari Tangerang di Masjid Istiqlal, dan
  peserta dari Bekasi di Masjid Kwitang. Mereka disarankan salat
  sebelum menuju tempat sasaran.

  Dari tempat transit itu, sekitar pukul 07.00 pagi, massa
  dikumpulkan di empat lokasi: di sekitar Jalan Thamrin dan Jalan
  Sabang, di Tanah Abang, sekitar Masjid Istiqlal dan Stasiun
  Gambir, serta di sekitar Jalan Kebon Sirih. Dari empat kawasan
  itu kemudian massa tumplek ke Kedutaan Besar Amerika Serikat,
  di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Mengapa berkumpul di
  empat kawasan? Ramdhan mengaku mencontoh pasukan yang dipimpin
  Rasulullah, dalam sejarah Islam, ketika menyerbu Mekah dari
  empat penjuru.

  Selain urusan massa, panitia ini tentu sudah menyiapkan pula
  segala sesuatu yang dibutuhkan. Apakah itu poster, pengeras
  suara, mobil, bahkan lengkap dengan kamera video yang merekam
  aksi itu. Tiga orang delegasi untuk bertemu dengan Duta Besar
  Amerika Serikat juga telah ditunjuk, terdiri dari mereka yang
  fasih berbahasa Inggris. Naskah pernyataan yang akan dibacakan
  sudah disiapkan. Malah untuk demo di depan Kedutaan Besar itu
  ditunjuk dua orang khusus sebagai agitator massa, dan lima
  pengawal untuk mengamankan Ketua FAIZ, delegasi, dan agitator
  tadi.

  Termasuk sudah diatur waktu dalam perjalanan, lengkap dengan
  perhitungan kemacetan lalu lintas. Untuk itu, pada hari Minggu,
  sehari sebelum hari H, panitia melakukan latihan simulasi. Aksi
  di depan Kedutaan Besar itu ditetapkan pula waktunya, tak boleh
  lebih dari satu jam.

  Dalam evaluasi yang diadakan panitia, setelah aksi itu,
  hampir semua rencana berjalan dengan baik. Kecuali ada catatan
  kecil, akhir demo ada yang tak sesuai dengan rencana karena
  ketatnya pengawalan polisi. Selain itu, ada 500 peserta asal
  Tangerang yang tercecer.

  Tampaknya FAIZ belum berhenti. Mereka masih mencari informasi
  apakah aksi mereka di hari Senin itu mendapat tanggapan. "Kalau
  perlu, kami akan datang lagi ke sana dengan massa yang lebih
  besar," kata Teddy. Tak jelas kapan mereka akan bergerak lagi.
  Tapi tampaknya aparat keamanan sudah ekstrahati-hati. Entah
  mendapat kabar dari mana, Jumat pekan lalu, sejumlah aparat
  keamanan berjaga-jaga di Kedutaan Besar Amerika Serikat.
  Ternyata hari itu tak ada apa-apa.

  Agus Basri