From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Forwarded message:
From owner-ekuin@cs.wisc.edu Fri Apr 14 17:24 EDT 1995
Message-Id: <9504142106.AA14059@lucy.cs.wisc.edu>
Date: Fri, 14 Apr 95 16:06:04 CDT
Reply-To: ekuin@cs.wisc.edu
Sender: owner-ekuin@cs.wisc.edu
Precedence: bulk
From: "Tubagus Feridhanuset" <A1.TIF@ISUMVS.IASTATE.EDU>
To: ekuin@cs.wisc.edu
Subject: Pelajaran Dari Meksiko
X-Listprocessor-Version: 7.1 -- ListProcessor by CREN
Content-Type: text
Content-Length: 8925
Dear Ekuin Netters:
Sehubungan dengan obrolan tentang exchange rates, berikut ini ada
tulisan saya yang mungkin sudah agak out of date. Tapi mungkin
masih relevan. Untuk yang sudah pernah baca di net lain, mohon
maaf.
Salam, Tubagus Feridhanusetyawan
----------------------- potong di sini ----------------------
PELAJARAN DARI MEKSIKO
Tubagus Feridhanusetyawan
(2/16/1995)
Di awal tahun 1994, perekonomian Meksiko menujukkan tanda-tanda
yang menggembirakan. Berbeda dengan keadaan di jaman krisis
tahun 1980an, di tahun 90an anggaran belanja pemerintah hampir
berimbang, export naik dengan pesat, suku bunga berada di tingkat
yang wajar, dan inflasi di bawah 10 persen. Naiknya ekspor ke
U.S. sebesar 35 persen tidak menunjukkan gejala nilai tukar Peso
yang terlalu tinggi (overvalued). Meskipun tidak sepesat
beberapa negara berkembang di Asia, pertumbuhan ekonomi juga
mengalami peningkatan sebagai akibat dari mulai berlakunya NAFTA.
Secara umum, keadaan di sektor riil membuat orang cukup optimis.
Di akhir tahun 94 situasi berbalik. Nilai tukar mata uang Peso
mengalami depresiasi sampai sekitar 50 persen, cadangan devisa
terkuras habis, inflasi meningkat tajam, suku bunga naik lipat
tiga dari 13 persen menjadi 39 persen dalam seminggu, dan
perekonomian terancam resesi. Kebijakan devaluasi yang dilakukan
bulan Desember tidak menyelamatkan situasi, malahan justru
sebaliknya membuat bangkrutnya perekonomian Meksiko.
Semua berawal dari besarnya defisit transaksi berjalan (current
account) yaitu sekitar 8 persen dari GDP di tahun 1994.
Sebenarnya tidak perlu ada masalah dengan transaksi berjalan yang
defisit. Besarnya defisit transaksi berjalan tidak menunjukkan
kegagalan ekonomi, malahan itu bisa menunjukkan bahwa ekonomi
cukup sehat. Umumnya negara berkembang yang bisa menarik modal
yang besar dari luar negri akan mempunyai neraca transaksi
berjalan yang defisit. Current account deficit, menurut
definisi, akan dibarengi dengan capital account surplus. Defisit
transaksi berjalan itu dibiayai oleh masuknya modal dari luar
negri dan 'official setlement balance' pemerintah dengan komponen
utamanya adalah cadangan devisa. Yang menjadi masalah dengan
Meksiko adalah defisit transaksi berjalan itu dibiayai dengan
arus pemasukan modal yang spekulatif. Kebanyakan modal yang
masuk ke Meksiko bersifat jangka pendek dan bukan investasi yang
bersifat jangka panjang. Selain itu, disinyalir bahwa
membesarnya defisit transaksi berjalan ini lebih disebabkan oleh
meningkatnya konsumsi dibanding investasi.
Situasi politik yang tidak menentu di tahun 1994 membuat modal
dari luar negri itu terbang kembali ke luar negri. Pemberontakan
di Meksiko Selatan di bulan Januari, pembunuhan calon presiden
Colosio tiga bulan kemudian, dan berbagai peristiwa politik lain
di tahun 1994 telah membuat orang tidak percaya terhadap
perekonomian Meksiko dan melarikan modalnya ke begara lain.
Akibatnya, cadangan devisa berkurang banyak karena terpakai untuk
membiayai defisit transaksi berjalan. Masalahnya menjadi lebih
besar karena cadangan devisa ini biasanya dipakai sebagai alat
intervensi di pasar mata uang untuk menjaga nilai tukar Peso.
Dengan perkataan lain, kemampuan pemerintah Meksiko untuk menjaga
nilai tukar Peso menjadi terancam.
Dengan menipisnya cadangan devisa ini, pemerintah Meksiko punya
beberapa pilihan kebijakan. Pilihan yang diambil adalah
devaluasi. Harapannya adalah bahwa dalam jangka panjang, barang-
barang Mesiko yang lebih murah meningkatkan ekspor dan mengurangi
defisit transaksi berjalan. Tadinya, devaluasi 20 persen
dilakukan dengan harapan agar cadangan devisa bisa diselamatkan,
resesi dapat dihindari dan suku bunga dapat dipertahankan di
tingkat semula. Tetapi, rupanya yang terjadi justru sebaliknya.
Justru devaluasi itu mengakibatkan jatuhnya tingkat kepercayaan
investor dan masyarakat akan Peso dan terjadilah capital flight
besar-besaran. Akibatnya, cadangan devisa yang tersisa terkuras
separuh dalam sehari, dan nilai Peso tidak bisa dipertahankan.
Akhirnya nilai Peso diambangkan, dan jatuh terdepresiasi sampai
lebih dari 50 persen. Yang terjadi adalah turunnya tingkat
kepercayaan masyarakat dan infestor terhadap pemerintah. Memang
banyak negara melakukan devaluasi dengan alasan yang sama.
Semuanya berdasarkan argumen bahwa kebijakan nilai tukar mata
uang ini mempunyai dampak positif di sektor riil. Pengalaman
Meksiko membuat orang sadar bahwa ternyata kebijakan devaluasi
ini tidak selalu membuat hasil seperti yang diinginkan.
Pilihan kebijakan lain yang tidak dilakukan oleh pemerintah
Meksiko adalah kebijakan moneter yang sehubungan dengan
pengendalian supply mata uang Peso di pasaran. Gejolak politik
selama tahun 1994 membuat orang tidak percaya akan mata uang
Peso, dan ini berarti ada penurunan permintaan Peso. Nilai tukar
mata uang sebenarnya adalah 'harga relatif' sebuah mata uang
dibandingkan dengan mata uang yang lain. Kalau permintaan
(demand) akan Peso berkurang, sedangkan supply tidak berubah,
maka 'harga relatif' atau nilai tukar Peso di pasaran akan
cenderung turun. Oleh sebab itu, dengan mengurangi supply Peso
di pasaran akan membuat nilai tukar Peso naik. Kebijakan
pengetatan supply uang atau sering disebut 'tight money policy'
ini akan meningkatkan tingkat suku bunga dan juga bisa menarik
modal asing masuk ke Meksiko. Memang perlu juga diingat bahwa
naiknya tingkat suku bunga juga punya akibat buruk karena bisa
mengancam resesi. Dengan menjual dollar dari cadangan devisa
memang pemerintah Meksiko mengurangi supply Peso di pasaran.
Akan tetapi, Peso yang ditarik itu dikembalikan lagi ke pasaran
dengan membeli bond dalam negri (sterilisasi). Dengan perkataan
lain, supply Peso di pasaran tidak berkurang. Pemerintah Meksiko
percaya pada pendapat bahwa turunnya nilai tukar mata-uang lebih
karena tekanan dari defisit transaksi berjalan, dan bukan semata-
mata masalah moneter berupa turunnya permintaan akan Peso.
Keberhasilan kebijakan moneter ini bisa dilihat dengan pengalaman
Argentina. Biasanya kalau Meksiko punya masalah ekonomi,
Argentina akan menyusul dengan masalah yang lebih besar. Tetapi
tidak demikian halnya dengan krisis Meksiko yang baru lalu.
Argentina juga mempunyai defisit transaksi berjalan yang besar,
tetapi meskipun dengan kebijakan nilai tukar mata uang yang
hampir fixed, cadangan devisa tidak terkuras habis seperti
Meksiko. Hal ini karena supply uang Argentina dikendalikan
dengan transparansi yang jelas. Supply uang bisa diperbesar
hanya kalau bisa ditunjang oleh cadangan devisa yang cukup. Hal
ini juga menjadi kontrol inflasi yang baik karena bank sentral
tidak bisa seenaknya mencetak uang untuk membiayai defisit
anggaran belanja. Kebijakan moneter yang jelas ini membuat orang
percaya terhadap nilai tukar mata uang Argentina. Pengalaman
Argentina yang jauh lebih baik dibanding Meksiko ini membuat para
ekonom monetaris seperti mendapat justifikasi bahwa faham yang
mereka anut selama ini tidak salah.
Bisa kita petik beberapa pelajaran berharga dari pengalaman
Meksiko ini. Pelajaran pertama adalah fakta bahwa perekonomian
nasional bisa sangat peka terhadap situasi politik dalam negri.
Struktur perekonomiannya sedemikian rupa sehingga sangat sensitif
terhadap gejolak politik. Hal ini memberi pekerjaan rumah bagi
negara-negara berkembang yang lain untuk membuat kebijakan agar
perekonomian tidak mudah tergoncang dengan adanya masalah
politik. Bagi Indonesia, hal ini sangat penting. Perekonomian
Indonesia harus cukup 'robust' untuk menghadapi berbagai
perubahan politis yang mungkin muncul dalam masa 10 tahun
mendatang.
Pelajaran kedua yang kita dapat adalah kenyataan bahwa kebijakan
devaluasi bisa berakibat fatal. Pengalaman Meksiko seperti
membuka mata bahwa resep kebijakan ekonomi yang selama ini
diberikan oleh IMF terhadap negara-negara berkembang tidak
selamanya bisa dilaksanakan dengan baik. Di kalangan ekonom
masih terus diperdebatkan seberapa jauh kebijakan nilai tukar
mata uang ini bisa berdampak positif terhadap sektor riil.
Perbandingan Meksiko dan Argentina menunjukkan bahwa masalah
nilai tukar mata uang lebih merupakan masalah moneter (supply dan
demand mata uang) ketimbang masalah defisit transaksi berjalan.
Pelajaran ketiga berhubungan ketergantungan negara berkembang
terhadap arus modal asing. Pengalaman menunjukkan bahwa masuknya
arus modal dari luar negri untuk membiayai defisit transaksi
berjalan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara
berkembang. Akan tetapi, di masa depan perlu lebih diperhatikan
sifat arus modal yang masuk itu, apakah bersifat spekulatif
jangka pendek, atau investasi dalam jangka panjang. Dengan
adanya pergolakan politik, modal yang bersifat spekulatif akan
mudah terbang ke luar negri, dan meninggalkan masalah besar di
dalam negri.
Salam dari Ames,
Tubagus Feridhanusetyawan.