Monyet Terkecil di Dunia

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Feb 21 1995 - 09:24:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

From apakabar@clark.net Tue Feb 21 09:06:04 1995
Received: (from uuigcmail@localhost) by cdp.igc.org (8.6.9/Revision: 1.192 ) id JAA03720 for indonesia-l; Tue, 21 Feb 1995 09:06:04 -0800
Received: by indcee.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Tue, 21 Feb 95 22:20:41 WIB
        for indonesia-l@igc.apc.org
Received: by rumah.indcee.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Tue, 21 Feb 95 19:30:56 WIB
Received: by rumah.indcee.or.id (WafEdit);
        via WAFEDIT; Tue, 21 Feb 1995 19:30:55
From: "Omar Sari" <osari@rumah.indcee.or.id>
To: indonesia-l@igc2.igc.apc.org
Cc: env.general@conf.indcee.or.id
Subject: IN: Primata terkecil ada di Sul-Ut
Reply-To: osari@indcee.or.id
Message-ID: <1995022102.1930IE3@rumah.indcee.or.id>
Date: Tue, 21 Feb 1995 19:30:55 WIB +7
Organisation: IndCEE Networks, Jakarta - INDONESIA
X-Mailer: WafEdit 0.01 (Simple Mail User Agent)
X-Content-Length: 6723

"Tarsius Spectrum", Primata Terkecil Terdapat Di Sulut
------------------------------------------------------

   Primata (jenis monyet) terkecil di dunia ini namannya Tarsius. Tarsius
Spectrum ini, hanya ada di wilayah Sulawesi, antara lain di Selatan maupun
utara. Di Sulut, tarsius ini ada di Bitung, yaitu di Cagar Alam Tangkoko.

   Tak ada negara mana pun di dunia yang memiliki Tarsius ini. Sehingga,
masyarakat Manado, Sulut, membanggakannya seperti membanggakan Pulau
Bunaken dengan kekayaan bawah lautnya yang begitu menawan.

   Jika ke Manado dan sudah ke Bunaken, tak rugi menambah deretan objek
wisatanya dengan berkunjung ke Tangkoko ini, untuk berkenalan dengan si
Tarsius. Mengamati wajahnya, tampak perpaduan dari berbagai binatang yang
mungkin sudah dikenal sebelumya, misalnya saja sepintas mirip koala,
kus-kus, atau juga melihat matanya yang besar mirip burung hantu.

   Terkadang juga mengingatkan mahkluk kecil mengerikan bernama Gremlin
dalam film berjudul serupa. Alapagi kalau mulutnya yang lebar menyeringai
memperlihatkan susunan giginya yang bertaring tajam. Dan, apabila melihat
sosoknya yang kecil, bakal membuat orang yang melihat begitu gemas. Rasanya
ingin ditenteng-tenteng dan digantung-gantung di bawa kemana-mana.

   Tetapi, sampai saat ini tarsius tak bisa seenaknya ditangkap atau
diperjualbelikan. Malah masuk dalam daftar hewan yang dilindungi secara
keras dan betul-betul harus dilestarikan keberadaannya. Karena memang
merupakan salah satu kekayaan alam yang hanya ada di bagian wilayah
Indonesia itu.

   Sesungguhnya, tidak aneh apabila binatang tarsius hanya ada di wilayah
Sulawesi. Sebab provinsi yang terletak Di Indonesia bagian timur itu memang
selama ini dikenal paling komplet memiliki hewan primata (jenis monyet).
Yang membuta Sulawesi banyak punya koleksi primata tentu saja karena
letaknya yang tepat diantara garis Wallace, yaitu garis pemisah antara
Benua Asia dan Australia.

   Karena letaknya itulah maka banyak binatang secara alamiah berevolusi
dengan alam, atau tetumbuhan yang ada.

   Maka, untuk jenis hewan monyet, muncul yang berwarna putih seperti
Anoman dalam kisah pewayangan, juga ada yang berwarna kuning. Pendek kata,
sangat beragam, sehingga muncul pula jenis yang dinamakan Tarsius ini. Dia
digolongkan ke dalam jenis primata, sebab, secara morfologi memang
mempunyai ciri-ciri seperti dimiliki oleh umumnya binatang jenis monyet.
Punya ekor, tubuhnya dipenuhi bulu dan bentuk jari-jari tangan dan kakinya
persis monyet.

   Menurut Yudha, anggota dari Biological Science Club yang antara lain
meneliti hewan primata ini, Tarsius agak berbeda dengan primata lainnya
hanya dalam soal makan. Umumnya binatang primata memakan tumbuhan dan
buah-buahan. Monyet, umumnya dikenal makan pisang, kacang dan buah lainnya.
tetapi Tarsius lebih senang jika diberi makan serangga ketimbang buah atau
tumbuhan.

   Hal ini dibenarkan Ny Jeffalin Mika Gumolang SH pemilik Tarsius. Ibu dua
anak yang tahun 1994 baru saja memperoleh penghargaan Kalpataru dari
Presiden Soeharto dalam kapasitasnya sebagai pelestari satwa itu mengatakan
Tarsius yang dipeliharannya itu gemar memakan serangga dan cecak.

   Tarsius dan 32 jenis hewan lain yang dipeliharannya, banyak yang dilepas
begitu saja di rumahnya yag seluas 5 hektar persis di tepi pantai di
Bitung. Jika siang hari Tarsius lebih senag mendekam di kandang dan
terlindung dari sinar matahari. Tarsius memang termasuk binatang malam.
Karena itu, menurut Yudha, jika malam hari tiba, bulatan hitam dimatanya
melebar. Maka pandangan matanya pun menjadi tajam, sanggup menembus
kegelapan seperti Vampire atau juga paniki (kalong, kelelawar).

   Kendati di sejumlah kebun binatang di Indonesia sudah mempunyai koleksi
Tarsius, tetapi kalau sudah sampai di Manado, memang lebih asyik melihat
langsung ke habitat Tarsius yaitu Cagar Alam Tangkoko itu, Tetapi
terkadang, di cagar alam justru sulit menemukannya. Apalagi di siang hari
binatang imut-imut ini lebih suka menyembunyikan dirinya.

   Maka, salah satu alternatifnya dengan mendatangi rumah Ny. Gumolang di
Bitung. Karena di tenagh-tengah kebu kelapanya, ia memelihara banyak
binatang dn salah satu yang menjadi daya tarik tentu saja Tarsius. Penerima
Kalpataru ini mengaku sehari bisa menghabiskan uang minimal Rp 100 ribu
untuk membeli aneka makanan bagi binatang peliharaannya, termasuk Tarsius.
Ia membeli cecak atau serangga untuk Tarsiusnya perekor Rp 100.

   Karena kecintaanya yang begitu dalam terhadap satwa, ia rela
mengeluarkan banyak dana perbulannya untuk binatang-binatang itu yang kalau
sudah berkembang biak juga dilepaskannya ke alam bebas, habitat mereka.
Begitu pula Tarsius. Menurut Ny Gumolang ia telah banyak melepas hewan
tersebut ke habitatnya di Tangkoko.

   Menurut Yudha, Tarsius memanag termasuk binatang yang mudah berkembang
biak. Sementara itu, di rumah Ny Gumolang yang dikelilingi satwa itu, hampir
setiap hari dikunjungi orang, termasuk para peneliti dari berbagai negara
maupun LIPI Bogor. "Berapa kali sehari Tarsius ini kencing Bu?" begitu
salah satu pertanyaan yang dilontarkan kaum peneliti.

   Maklum, namanya peneliti atau kaum ilmiah, tentu segala sesuatu ditanya
secara rinci. Ketimbang harus berkemah di cagar alam untuk mengamati
kehidupan Tarsius siang dan malam, maka tentulah lebih gampang bertanya
apa saja pada si empunya Tarsius, begitulah barangkali pertimbangannya.

   Karena sudah terbiasa ditanya itulah maka dengan lancar Ny Gumolang
membeberkan sejumlah keistimewaan Tarsius ini kepada Pembaruan saat
berkunjung ke rumahnya. "Tarsius ini unik, kepalanya bisa diputar 180
derajat, Dia juga mirip dengan anatomi tubuh manusia, lihat saja, jari
tangan dan yang ada lima rtuas itu. Dan ketika diadakan penelitian oleh
seorang profesor dari Australia, diketahui darah Tarsius itu ternyata sama
dengan darah manusia yang berjenis O, "bebernya.

   Baik Yudha maupun Ny Gumolang mengatakan bahwa keunikan Tarsius juga
pada caranya bersosialisasi. Tarsius cukup puas dengan satu betina dan
satu jantan, sehingga disebut bermonogami. Bentuk tubuhnya yang amat mini
untuk ukuran jenis primata, membuat para pemburu umumnya tak tertarik untuk
memangsanya. Tarsius dianggap tak menimbulkan selera dimakan, sebab
tubuhnya yang begitu imut-imut dan seperti tak berdaging. Tetapi, kalau
orang tertarik untuk menggenggamnya dan menjadikannya sebagai gantungan
kunci, boleh juga. Pemda setempat di mana Tarsius ini berada, perlu
memikirkan suvenir bagi turis yang berbentuk Tarsius, monyet terkecil di
dunia.

                        (Harian Umum Suara Pembaruan, 20 Februari 1995)