From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Forwarded message:
From owner-ids@suvm.acs.syr.EDU Mon Aug 8 11:19 EDT 1994
Message-Id: <199408081519.LAA02694@clark.net>
Date: Mon, 8 Aug 1994 10:29:24 -0400
Reply-To: Indonesian Development Studies - Network <IDS@suvm.acs.syr.EDU>
Sender: Indonesian Development Studies - Network <IDS@suvm.acs.syr.EDU>
From: Embassy of Indonesia <indonsia@DGS.DGSYS.COM>
Subject: Berita Tanah Air I
X-To: Development Studies Indonesia <IDS@suvm.acs.syr.EDU>
To: Multiple recipients of list IDS <IDS@suvm.acs.syr.EDU>
Content-Type: text
Content-Length: 45440
SUMBER : "ANTARA"
HARI/TGL : 8 AGUSTUS 1994
EDISI : I (SATU)
==============================
NASIONAL
========
TANGGAL 1 ROBIUL AWAL DIPASTIKAN JATUH PADA HARI SELASA
Jakarta) - Departemen Agama melalui Tim Rukyat hilal (melihat
bulan-red) memastikan bahwa hari Selasa (9/8) adalah hari pertama
bulan Robiul Awal (Maulud), setelah menyaksikan secara rukyat di
Pos Observasi Pelabuhan Ratu, Jabar, Minggu sore (7/8) di mana
hilal tidak nampak karena masih di bawah ufuk.
"Berdasarkan perhitungan hisab berdasarkan kalender Nautika,
diperoleh hasil perhitungan minus yakni -00 derajad 42,1 detik,
artinya hilal masih di bawah ufuk," kata staf Tim Rukyat Hilal
Depag, Kiai Banani Aqil di Jakarta, Senin.
Dikatakan, tanggal 1 Robiul Awal itu ditetapkan dengan istik-
mal bulan Shafar (menggenapkan menjadi 30 hari), dengan demikian
untuk menentukan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Robiul
Awal) yang merupakan salah satu hari libur nasional bisa langsung
dipastikan yakni pada 20 Agustus 1994.
Robiul Awal merupakan salah satu dari 12 bulan dalam perhi-
tungan kalender Islam (Hijriah). Ke 12 bulan itu Muharram, Sha-
far, Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir,
Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah dan Dzulhijjah.
Departemen Agama melaksanakan rukyat hilal untuk menentukan
awal bulan, sebanyak delapan kali dalam setahun yaitu untuk
Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, Robiul Awal, Rajab, Sya'ban,
Ramadhan dan Syawal.
Tim yang melaksanakan rukyat hilal terdiri atas lima petugas
Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama dari Depag dan dua
ahli hisab perorangan dari daerah Sukabumi dan Cibadak, Jawa
Barat.
=========================
GUNUNG GAMALAMA SEMBURKAN ASAP HITAM
Ambon) - Gunung Gamalama di Tenate, Maluku Utara, Senin pagi
sekitar pukul 07.00 WIT mengeluarkan bunyi "blaser" atau ngorok
disertai semburan asap hitam setinggi 200-250 meter.
Kepala Bidang Geologi Sumberdaya Mineral, Kanwil Pertambangan
dan Energi Maluku, Ir Philip Kasturian di Ambon, Senin mengata-
kan, suara gemuruh gunung itu disampaikan tiga petugas seismograf
dari pusat penelitian vulkanologi yang bertugas di sekitar gunung
itu.
"Blaser" itu, merupakan rangkaian kegiatan batuk-batuk kecil
dan semburan debu ke udara selama dua bulan lebih terakhir ini.
Akibat kegiatan tersebut, menurut Kasturian, terjadi gempa
vulkanis pada Jumlat malam (5/8) sekitar pukul 21.11 WIT, hujan
debu bercampur kerikil disertai semburan api setinggi 200-300
meter selama lima menit.
Gamalama dengan ketinggian 1.715 meter itu, pada pertengahan
Juli lalu mengalami batuk-batuk kecil disertai semburan debu ke
udara dengan tingkat letusan vulkanis sekitar dua hingga tiga
kali sehari.
Letusan vulkanis Gamalama mencapai 20 hingga 25 kali sehari,
terjadi pada Juni lalu, dimana kepulan asap debu mencapai 300-350
meter, katanya.
Menyinggung tentang aktivitas Gamalama, Kasturian menjelas-
kan, terus dipantau perkembangannya dan masyarakat di sekitar
gunung diimbau terus waspada mengantisipasi bahaya yang sewaktu-
waktu dapat terjadi.
Penyuluhan dan imbauan telah disampaikan kepada masyarakat,
terutama mereka yang mengembangkan usaha perkebunan dan pertanian
di sekitar gunung api itu, katanya.
Kegiatan masyarakat sehari-hari dilaporkan berjalan lancar,
seperti perekonomian, perhubungan laut dan penerbangan pesawat,
kata Kasturian.
============================
PRIMATA HADAPI MASALAH KEHILANGAN HABITAT ALAM
Kuta, Bali - Sejumlah pembicara dalam Kongres XV Internation-
al Primatological Society (IPS) yang kini berlangsung di Bali, 3-
8 Agsutus, menilai keberadaan primata dengan segala macam spe-
siesnya menghadapi permasalahan kehilangan habitat alam akibat
alih-fungsi dan berkurangnya luas areal hutan.
Kongres International Primatological Society yang diikuti 600
ilmuwan dari 48 negara itu, pada sidang ke-enam dan ke-tujuh,
Sabtu dan Minggu, membahas antara lain masalah pentingnya konser-
vasi, ekologi serta primata dan "ecotourism" atau pariwisata
berwawasan lingkungan di samping puluhan makalah ilmiah lainnya.
Pembicara Ardith A. Eudey dari Perhimpunan Ahli Primata di
Amerika Serikat dan Tulus Sibuea dari Indonesia sama berpendapat,
hilangnya habitat alam akibat eksploitasi hutan telah menjadi
problem utama bagi konservasi primata.
"Diakui, berkurangnya habitat alam untuk primata dan masih
dijumpainya eksploitasi hutan dan primata itu sendiri merupakan
konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Asia
khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara," kata Ardith A. Eudey
yang menjadi peneliti satwa primata di Asia.
Menurut dia, rencana Tindakan Bagi Konservasi Primata Asia
(The Action Plan for Asian Primate Conservation) telah memberikan
dukungan terhadap upaya strategis perlunya konservasi nasional
untuk primata tersebut.
Permasalahan Utama
Pembicara dari Indonesia Tulus Sibuea, yang juga dosen biolo-
gi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, menilai, permasalahan
utama konservasi primata sekarang ini adalah menyempitnya areal
hutan serta terjadinya perusakan hutan yang pada akhirnya menye-
babkan primata kehilangan habitatnya.
Tulus memberikan alternatif untuk konservasi primata yang
disebutnya sistem "agroforestry" yang tidak saja mendukung upaya
konservasi primata, tetapi juga ada nilai tambah bagi para petani
di sekitar kawasan hutan.
Hasil riset di Krui, Lampung menunjukkan sistem "agroforest-
ry" seperti perkebunan damar dapat meningkatkan daya tahan hidup
dan menambah populasi primata. Ini berarti petani juga dapat
memberikan kontribusinya untuk konservasi primata.
Pembicara Indonesia lainnya, Hario Tabah Wibisono, berpenda-
pat perusakan hutan sesungguhnya ikut bertanggungjawab atas
menurunnya jumlah populasi primata.
Siamang
Menunjuk contoh yang terjadi di Sumatera terutama untuk
primata jenis Siamang (hylobates syndactylus) dan Ungko (hylo-
bates agilis), Hario menyebutkan, dari sekitar 340 ribu kilometer
persegi hutan di Sumatera, kini hanya tersisa sekitar 120 ribu
kilometer persegi untuk habitat Siamang.
Sedangkan untuk Ungko dari 500 ribu kilometer persegi tersisa
sekitar 170 kilometer persegi.
"Berdasarkan fakta ini dan mengingat Siamang hanya terdapat
di Sumatera, sedangkan Ungko selain di Sumatera juga ada di
Kalimantan, maka konservasi untuk primata menjadi sesuatu yang
sangat penting dilakukan, di samping dapat mencegah perusakan
hutan di masa mendatang," katanya.
Kongres International Primatological Society memasuki hari
ke-empat, Minggu, membahas antara lain manfaat satwa primata pada
kehidupan manusia yang dikemukakan seorang ahli primata dari
Belanda, Ignaas Spruit, di samping puluhan makalah ilmiah lain-
nya.
Keterkaitan primata dengan "ecotourism" juga dibahas sejumlah
pembicara, antara lain Margareth Kinnaird dari AS dan Bettina G.
Johns dari Inggris.
Kongres XV IPS yang dibuka Menhut Djamaluddin Suryohadikusumo
tanggal 3 Agustus lalu akan berakhir Senin tanggal 8 Agustus.
==========================
KETUA BAPPENAS AKAN BERTEMU PERDANA MENTERI JEPANG
Tokyo - Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Dr Ginandjar
Kartasasmita dalam kunjungan kerjanya pekan ini di Jepang dijad-
walkan akan bertemu Perdana Menteri Jepang, Tomiichi Murayama.
Jika terlaksana, Ginandjar adalah anggota Kabinet Pembangunan
VI pertama yang bertemu pemimpin pemerintahan Jepang itu, setelah
terbentuknya kabinet koalisi Partai Liberal-Demokrat (LDP),
Partai Sosial Demokrat (SDP) dan Partai Baru Sakigake Juli lalu.
Ginandjar, yang tiba di Tokyo, Sabtu untuk kunjungan kerja
sampai Rabu (10/8) dijadwalkan bertemu PM Murayama pada hari
terakhir kunjungannya.
Sehari sebelum pertemuannya dengan PM Murayama, Ginandjar
akan bertemu dengan Wakil PM/Menteri Luar Negeri Yohei Kono dan
mantan Perdana Menteri, Noboru Takeshita serta Wakil Presiden
OECF (Overseas Economic Cooperation Fund), Chikao Tsukuda.
Selain itu, Ketua Bappenas akan bertemu pula antara lain
dengan Menteri Negara Badan Perencanaan Ekonomi (EPA), Masahiko
Komura, Wakil Menteri Keuangan, Kosuke Nakahira, Presiden JICA
(Japan Internasional Cooperation Agency), Kimio Fujita yang
mantan dubes Jepang untuk Indonesia dan Gubernur Bank Eksim,
Hiroshi Yasuda.
====================
PANGERAN AKISHINO DAPAT SUGUHAN TARI TRADISIONAL SUMSEL
Palembang - Pangeran Akishino (28), putra kedua Kaisar Jepang
Akihito, dalam jamuan santap malam dengan Wakil Gubernur Sumatera
Selatan HM Arub,SH di Griya Agung, Palembang, Sabtu malam, menda-
pat suguhan tari tradisional khas Sumsel.
Di awali dengan Tari Tanggai, tari yang khusus dipersembah-
kan untuk menyambut tamu agung, kemudian dilanjutkan dengan Tari
Lilin yang dipersembahkan lima penari dengan menginjak beberapa
buah piring tanpa pecah, sangat menarik perhatian Pangeran.
Ia bangkit dari tempat duduknya untuk menyaksikan tari terse-
but.
Pada jamuan santap malam itu, Pangeran yang bernama lengkap
Akishinonomiyo Fumihito, menerima cenderamata dari Wakil Gubernur
Sumsel.
Tim peneliti perunggasan Jepang yang menyertai kunjungan
pangeran melakukan kunjungan ke Pasar Burung.
Rombongan Pangeran Akishino, Ahad pagi melanjutkan perjala-
nan ke Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, 50 km dari
Kota Palembang.
Juru bicara Humas Pemda Tingkat I Sumsel Drs Rasyid Kridin
mengatakan, selama kunjungannya di Palembang, rombongan tamu dari
Jepang itu didampingi Walikotamadya Palembang Drs H Husni, Kepala
Dinas Pariwisata Kodya Palembang Ir Alex Noerdin,SH.
Selama di Palembang, Pangeran Akishino meneliti beberapa
jenis unggas terutama ayam bekisar yang berbulu indah, yang
terdapat di Pasar Burung Palembang.
==============================
"PASUKAN" KESULTANAN CIREBON SIAP LAGA DI YOGYAKARTA
Cirebon - Sekitar 560 anggota 'pasukan' penari dari tiga
kesultanan di Kotamadya Cirebon, Jabar, 12 Agustus berangkat
untuk berlaga di Festival Kraton 1994 di Yogyakarta, 13 sampai 20
Agustus mendatang.
Kesiapan para penari itu, Sabtu, diperagakan di Jl Sili-
wangi, Cirebon, disaksikan Walikota Cirebon, Drs H Kumaedhi
Syafrudin, Sultan Kasepuhan, PRA Maulana Pakuningrat, Sultan
Kanoman, Moch. Djalaludin, dan Sultan Kacirebonan, Pangeran Moh
Mulyono Amir Natadiningrat.
Dengan disaksikan penonton yang berjejer di sepanjang jalan
ini, Kraton Kasepuhan di bawah kordinasi PR Arief Natadinin-
grat,SE, menampilkan kesatuan pasukan dari masa Sunan Jati Purba
saat mengusir Portugis di Sunda Kelapa seperti pasukan gada,
keris, tameng, tombak dengan diiringi tetabuhan dan warna-warni
bendera.
Di depan panggung kehormatan, pasukan ini membentuk konfigu-
rasi perkemahan, Cakra Manggiling dan Makara Wiyuha yang meng-
gambarkan saat pasukan ini memukul mundur pasukan Portugis dari
mulai datang berkemah, berlaga perang dan menang.
Konfigurasi Makara Wiyuha merupakan bentuk udang yang siap
mencapit dan memotong lawan, dan hasil dari pampasan perang
melawan Portugis ini sampai kini masih tersimpan dan dapat
dilihat di museum Kraton Kasepuhan, Kanoman dan Fatahillah
Jakarta.
Kraton Kanoman dalam Festival Kraton 1994 ini, menampilkan
sejumlah besar pasukan tombak dengan pakaian baju rompi warna
ungu, celana hitam dililit batik Mega Mendung Cirebonan, dan
begerak gagah dalam gerakan baris berbaris tanpa diiringi tetabu-
han apa pun.
Sementara Kraton Kacirebonan menampilkan sejumlah pasukan,
tapi dalam penampilannya di arena persiapan ini, pasukan Kraton
Kacirebonan ini mendapat sambutan meriah menyusul tampilnya
pasukan 'Nini Towok", pasukan khusus bidang 'intelejen' yang
ditampilkan dengan dandanan khas.
==================================
FOKUS BERITA:
============
DI BALIK EKSPOR KERA EKOR PANJANG DAN BERUK
Oleh Eddy Karna Sinoel
Kuta, Bali) - Meskipun satwa liar primata jenis kera ekor
panjang (macaca fascicularis) dan beruk (macaca nemestrina) di
Indonesia tidak dilindungi undang-undang, namun pemerintah telah
mengambil keputusan melarang ekspor kera-kera tersebut ke luar
negeri dari hasil perburuan atau tangkapan alam.
Larangan itu dikuatkan Pemerintah Indonesia dengan mengeluar-
kan SK Menteri Kehutanan (Menhut) No. 26/Kpts-II/94 tanggal 20
Januari 1994 yang menyebutkan, kera ekor panjang dan beruk yang
sudah sejak lama dimanfaatkan manusia sehingga keberadaannya di
alam menunjukkan gejala penurunan, harus diekspor dari hasil
penangkaran (breeding).
"Langkah ini merupakan kemajuan bagi Indonesia dan sangat
dihargai oleh dunia internasional," kata Menteri Kehutanan
Djamaluddin Suryohadikusumo ketika membuka Kongres ke-15 Inter-
national Primatological Society (IPS) yang diikuti 600 ilmuwan
dari 48 negara di Kuta, Bali, Rabu (3/8) lalu.
Tiga keputusan yang diambil Pemerintah Indonesia melalui
Departemen Kehutanan mengenai ekspor kera ini adalah, ekspor kera
ekor panjang dan beruk harus dari hasil penangkaran, para eks-
porter diwajibkan melakukan usaha penangkaran sendiri serta
jumlah satwa primata yang dapat diekspor harus berdasarkan kuota.
Dikeluarkannya keputusan pemerintah mengenai ekspor kera ekor
panjang dan beruk ini bukan tanpa alasan, karena selain perkiraan
jumlah populasinya semakin berkurang juga tidak lepas dari mun-
culnya berbagai peristiwa yang mengundang perhatian internasion-
al termasuk isyarat dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di
dalam negeri.
Sekitar dua tahun lalu, Indonesia sempat diprotes masyarakat
internasional karena diketahui sebanyak 110 ekor kera ekor pan-
jang (macaca fascicularis) mati dalam perjalanan ekspor ke Miami
(AS) melalui Frankfurt (Jerman).
Protes juga disampaikan oleh masyarakat internasional sehu-
bungan dengan perkiraan ekspor beruk (macaca nemestrina) dari
Indonesia telah melebihi kuota.
Indonesia merupakan negara pengekspor kera ekor panjang
terbesar di dunia, disamping Mauritius dan Filipina, namun dua
negara ini telah melakukan penangkaran besar-besaran, sehingga
ekspornya dari hasil penangkaran tersebut.
Berdasarkan pengalaman ini, sebuah LSM, yakni Bina Lingkungan
Hidup Indonesia (BLHI) sempat mengimbau pemerintah agar untuk
sementara menghentikan ekspor kera mengingat kuota yang ditetap-
kan sebanyak 10.000 ekor (1993) melebihi kapasitas hasil penang-
karan yang ada.
Alasan lain, disinyalir kera yang diekspor tersebut tidak
lagi sekedar untuk riset biomedis bagi dunia kedokteran, tetapi
ada masyarakat di luar negeri yang menggunakannya untuk konsumsi.
Populasi belum diketahui
Seorang ahli primata Indonesia, Jatna Supriatna, Ph.D yang
gelar doktornya diraih dengan tesis tentang kera, menilai positif
sikap Pemerintah Indonesia yang dengan dikeluarkannya SK Menhut
tersebut telah melarang ekspor kera dari perburuan atau tangka-
pan alam.
Alasannya, kata Jatna, sejauh ini belum diketahui persis
berapa sesungguhnya jumlah populasi kera di alam Indonesia. Kalau
populasi belum diketahui, maka sulit menentukan berapa banyak
yang bisa ditangkap untuk ekspor, karena kalau tidak terkendali
populasi akan berkurang.
Untuk itu, Indonesia perlu melakukan survai terlebih dahulu
terhadap populasi primata termasuk kera ekor panjang dan beruk
yang terdapat di alam bebas.
Ahli primata Indonesia yang juga dosen biologi di F-MIPA UI
ini sebelumnya mempresentasikan makalah tentang hasil survai
populasi kera di hadapan peserta Kongres IPS yang menurutnya
masih cukup banyak ditemukan kera di alam bebas di Indonesia.
"Masih banyak kera ditemukan di alam Indonesia termasuk kera
ekor panjang dan beruk yang diekspor Indonesia," ujarnya dan
menambahkan, terkadang banyak juga kera ini yang menjadi hama
bagi petani, sehingga ada yang ditangkap kemudian dibunuh.
"Tetapi, persoalannya ialah tidak diketahui persis berapa
banyak jumlahnya di alam bebas Indonesia," kata Jatna.
Survai yang dilakukan belum lama ini baru mencakup beberapa
daerah saja, seperti di Lampung, Bengkulu dan Jambi.
"Saya langsung terjun dalam survai tersebut, hasilnya seperti
di Lampung kera ekor panjang masih sekitar 250.000 ekor, di
Bengkulu sekitar 300.000 ekor dan bahkan di Jambi bisa mencapai
500.000 sampai satu juta ekor kera ekor panjang," katanya.
Ini berdasarkan perkiraan, artinya tidak bisa dikatakan bahwa
kera ekor panjang masih banyak di alam Indonesia untuk kemudian
secara bebas ditangkap untuk ekspor.
Kalau jumlah populasi sudah diketahui, maka bisa diperkirakan
berapa banyak yang bisa ditangkap dari alam.
Dalam konteks ini meskipun sudah diketahui populasinya,
penangkapan tidak bisa hanya dilakukan begitu saja, tetapi perlu
diteliti kera yang mana yang harus ditangkap.
"Apakah induknya atau anaknya, kalau induknya apa pengaruh
terhadap anaknya, begitu pula sebaliknya," ujar ahli primata
Indonesia ini.
Disini yang perlu diterapkan adalah teknik penangkapannya,
kalau yang ditangkap induknya, kapan anaknya bisa besar lagi
seperti induknya.
"Ini bukan sesuatu hal yang mudah kalau kita ingin menaruh
perhatian serius terhadap primata," ujarnya dan menambahkan,
"saya menilai tepat keluarnya SK Menhut tersebut, dan tidak
tertutup kemungkinan bila nanti sudah diketahui jumlah populasi
kera di Indonesia, keputusan ini bisa diubah lagi."
Penangkaran untuk biomedis
Menurut ahli primata Indonesia ini, isyarat pemerintah agar
ekspor kera dari hasil penangkaran juga punya manfaat penting
untuk memenuhi kebutuhan riset biomedis di kalangan dunia kedok-
teran dunia dewasa ini.
Berbagai riset biomedis yang tengah dilakukan di dunia membu-
tuhkan cukup banyak primata dari Indonesia diantaranya beruk
(macaca nemestrina) asal Sumatera dan Kalimantan.
"Hasil penelitian dunia medis internasional menyebutkan,
Beruk Sumatera dan Kalimantan dinilai sangat baik dijadikan model
untuk penelitian penyakit AIDS," kata Jatna.
Pentingnya primata untuk riset biomedis dibenarkan oleh
sejumlah pembicara pada Kongres IPS di Bali, di antaranya Wil-
liam R. Norton dari Pusat Penelitian Primata Universitas Washing-
ton, Peter J. Gerone dari Pusat Riset Primata di Covington, AS
serta Judith L. Vaitukaitis dari National Institute of Health
(NIH) Bethesda.
Norton dalam makalah ilmiahnya menyebutkan, primata sangat
diperlukan untuk penelitian AIDS, dan sejak teridentifikasikannya
HIV (Human Immunodeficiency Virus) penyebab AIDS, semakin banyak
ahli meneliti keberadaan primata di dunia.
"Proses infeksi HIV (penyebab AIDS) pada beruk memiliki
kesamaan dengan yang terjadi pada manusia," kata Norton.
Sementara itu, Judith L. Vaitukaitis mengatakan, National
Centre for Research Resources (NCRR) di NIH Bethesda memberikan
sekitar 15 persen dari seluruh anggaran yang dimiliki NCRR untuk
disumbangkan kepada Pusat Penelitian Primata Regional di sejumlah
negara serta untuk penelitian AIDS dan penangkaran primata itu
sendiri.
Di Indonesia, primata yang dinilai sangat cocok untuk peneli-
tian AIDS adalah beruk asal Sumatera dan Kalimantan. Hal ini
telah diakui peneliti internasional, dan bahkan ketika puluhan
primata dari berbagai dunia diuji untuk penelitian penyakit,
ternyata beruk tersebut dinilai paling baik.
Ahli primata Indonesia, Jatna Supriatna mengingatkan kembali
bahwa munculnya kebutuhan riset biomedis terhadap kera asal
Indonesia berarti memberi peluang bagi negara ini untuk meman-
faatkannya secara ekonomis disamping untuk kepentingan medis
sendiri.
Beruk yang cocok untuk penelitian AIDS bisa dikatakan hanya
terdapat di indonesia, kalaupun ada di Malaysia jumlahnya tidak
terlalu banyak, seperti yang ada di kawasan Kalimantan Utara.
Oleh sebab itu, SK Menhut yang melarang ekspor kera ekor
panjang dan beruk dari perburuan di alam melainkan hanya dari
hasil penangkaran dinilai positif bila dikaitkan dengan riset
biomedis ini.
Hasil tangkapan alam bisa saja masih terdapat virus, tetapi
dari penangkaran yang sudah diperiksa bisa bebas virus untuk
penelitian di dunia kedokteran, dan ini berarti ada nilai lebih
pada harga jual beruk tersebut.
Dengan demikian, penangkaran harga jualnya tidak lagi 50 -
100 dolar AS per ekor, tetapi bisa lebih tinggi lagi.
Ketua Umum Masyarakat Pelestari Hidupan Liar Indonesia
(MPHI), Dr. Herman Haeruman sebelumnya menyatakan, dengan temuan
Beruk Sumatera dan Kalimantan cocok untuk penelitian AIDS menyi-
ratkan negara ini akan cukup berperan dalam menjawab tantangan
penelitian penyakit tersebut.
"Indonesia diikutsertakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) dalam setiap upaya penelitian AIDS," ujarnya.
Disamping beruk asal yang dinilai cocok untuk penelitian
AIDS, primata dari Indonesia lainnya yang baik untuk riset
biomedis adalah kera ekor panjang (macaca fascicularis) dan
lutung (prebytis cristata).
"Bukan tidak mungkin suatu saat nanti Indonesia tidak hanya
mengekspor kera, tetapi juga mengekspor vaksin ke mancanegara
sebagai hasil penangkaran," kata ujar Djamaluddin dan menambah-
kan, "kita sudah cukup berhasil menangkarkan kera di Pulau Tin-
jil, Jawa Barat.
==========================
EKONOMI
=======
PENGUSAHA SINGAPURA JANGAN HANYA BERHUBUNGAN DENGAN KONGLOMERAT
Singapura - Pengusaha Singapura hendak nya jangan berhubungan
hanya dengan konglomerat, tetapi supaya diperluas kepada usaha
menengah dan kecil di Indonesia.
Imbauan itu dilontarkan Wakil ketua Kadin Fadel Muhammad, di
Singapura sebagaimana diberitakan The Sunday Times, Minggu.
Dikatakannya, pengusaha Singapura dapat membantu perusahaan
menengah dan kecil Indonesia berkembang dengan menjadikan mereka
sebagai sub-kontraktor.
Fadel yang juga Presiden Direktur Kelompok Gema/Bukaka itu
mengatakan, pihaknya sudah membahas peluang hubungan lebih besar
pengusaha Singapura dan pengusaha menengah dan kecil Indonesia
dengan para pejabat pemerintahan di negara tetangga itu.
"Ada pandangan di Indonesia bahwa pengusaha Singapura hanya
melakukan bisnis di industri tertentu," ujar Fadel menunjuk
proyek-proyek di Batam dan Bintan, Riau.
Ia berharap agar pengusaha Singapura memperluas hubungan
bisnis dengan industri menengah dan kecil yang sudah siap melaku-
kan bisnis di bidang itu.
Pada bagian lain laporan The Straits Times, tokoh pengusaha
nasional itu mengimbau pengusaha-pengusaha Indonesia supaya
melihat Singapura, bukan Amerika atau Eropa, sebagai mitra bisnis
utama.
Menurut dia, Singapura memiliki kemampuan teknologi dan kedua
negara mempunyai kesamaan budaya.
Dikatakannya, Singapura dan Indonesia dapat "melakukan banyak
hal bersama" selain usaha di bidang ekonomi.
Fadel (42) berada di Singapura selama empat hari antara lain
untuk menerima medali emas "Lee Kuan Yew Fellowship (LKYF)" dan
bertemu dengan sejumlah pejabat penting di negara itu.
Dibentuk tahun 1991, LKYF diberikan kepada pribadi -pribadi
yang menonjol. Nama Lee Kuan Yew diabadikan karena pemimpin
Singapura yang kini menteri senior itu dinilai berjasa besar pada
negaranya.
PERLU DIPIKIRKAN DAMPAK DALAM MENGGAET WISATAWAN CHINA
Semarang - Kerjasama sektor pariwisata antara Indonesia dan
China jangan dilihat faktor ekonominya saja kendati punya prospek
cerah, tetapi perlu dipikirkan dampak positif dan negatifnya.
Perlu dicari keseimbangan dalam kerjasama tersebut, misalnya
faktor politik, sosial dan budaya, kata pengamat ekonomi sekali-
gus Pembantu Dekan I Universitas Diponegoro (Undip) Semarang,
Miyasto, Minggu.
Indonesia memiliki nilai tambah di bidang pariwisata, yakni
aman di bidang politik, sosial dan sektor lainnya, oleh sebab itu
meningkatkan arus pariwisata China memerlukan waktu," katanya.
Wisatawan China kebanyakan berasal dari provinsi Fujian,
Guangdong, Shanghai dan daerah perbatasan termasuk Mongolia,
Guangxi, Yunan dan Heilongjiang.
Kepala Kantor Kelas I Imigrasi Semarang H. Syaiful Rachman
pada kesempatan terpisah mengatakan, wisatwan China ke luar
negeri lebih banyak bersifat bisnis daripada berfoya-foya sambil
menikmati keindahan panorama obyek wisata negara lain.
Ia menyebutkan, data terakhir di Kantor Imigrasi Semarang
untuk visa kunjungan usaha tercatat 112 orang, visa kunjungan
sosial dan budaya 226 orang, dan visa kunjungan wisata hanya 48
orang.
Persiapan Matang
General Manager Patra Jasa Hotel Semarang, Wahono, mengata-
kan, sebelum "kran" arus wisatawan China ke Indonesia dibuka,
persiapan matang dari kalangan yang berkompeten termasuk sektor
perhotelan diperlukan.
Pengusaha hotel perlu sedini mungkin mempersiapkan hal-hal
yang menunjang arus wisatawan, termasuk menu budaya berbau etnis
China dan kalau perlu berlangganan koran Indonesia beraksara
China.
"Namun kita masih harus menunggu realisasi kesungguhan pemer-
intah membuka jalur pariwisata baru dari China," katanya sambil
menilai pembukaan jalur pariwisata dari China ke Indonesia seba-
gai langkah berani pemerintah dalam menyikapi perubahan zaman.
Menanggapi anjuran pemerintah bahwa setiap hotel bisa mengge-
lar atraksi budaya China dalam rangka menyambut wisatawan negara
itu, menurut dia, persiapan yang matang diperlukan.
==================================
OSAKA MUNGKIN AKAN JADI TUAN RUMAH PERTEMUAN APEC 1995
Tokyo - Osaka mungkin akan menjadi tuan rumah pertemuan
informal para pemimpin negara anggota forum Kerjasama Ekonomi
Asia-Pasifik (APEC) pada musim gugur tahun depan, kata sumber-
sumber pemerintah, Minggu.
Sumber-sumber itu mengatakan para menteri dan badan pemerin-
tah telah merencanakan pertemuan itu dan telah diambil keputusan
resmi bahwa PM Tomiichi Murayama akan mengeluarkan undangan ke
Osaka pada saat ia menghadiri konperesi APEC di Indonesia, Novem-
ber.
Berdasarkan rencana itu, peristiwa yang berkaitan dengan
konperensi itu akan diadakan di taman sekitar Puri Osaka.
Pertemuan itu akan menjadi pertemuan kepala pemerintahan
pertama di Jepang yang diselenggarakan di luar Tokyo.
Pada pertemuan informal forum itu di Seattle, tahun lalu,
Amerika Serikat, sebagai tuan rumah, memperkenalkan citarasa
lokal dengan mengadakan pertemuan para pemimpin itu di sebuah
rumah berdinding kayu.
Dengan cara serupa, pertemuan Osaka itu akan diadakan di
sebuah rumah pertanian tradisonal berdinding kayu dan beratap
jerami yang saat ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan di
taman Nishinomaru di Puri Osaka.
Para peserta bisa merasakan sentuhan Jepang dengan menikmati
teh di ruang minum teh tradisional di sela-sela konperensi.
Osaka dan pusat-pusat kota lain, terutama Kyoto dan Kobe,
berminat menjadi tuan rumah pertemuan semacam itu, namun belum
mendapatkan kesempatan karena masalah jaminan keamanan dan ako-
modasi untuk para peserta, diplomat, dan staf tambahan.
Saat ini, Osaka dinilai memenuhi syarat karena mulai musim
gugur ini, kota itu akan memiliki bandara yang melayani penerban-
gan selama 24 jam dan mampu menyediakan ruangan untuk para deleg-
asi.
======================
NATIONAL NEWS
=============
NATI0NAL PLANNING COUNCIL CHAIRMAN TO MEET PM MURAYAMA
Tokyo - State Minister/Chairman of the National Planning
Council Ginandjar Kartasasmita is scheduled to meet with Japanese
Prime Minister Tomiichi Murayama during his five day working
visit to Japan.
Ginandjar, who arrived in Tokyo on Saturday, is also sched-
uled to meet with Deputy PM/Minister for Foreign Affairs Yohei
Kono, former Prime Minister Noburu Takeshita and Vice President
of the Overseas Economic Cooperation Fund (OECF) Chikao Tsukuda.
Ginandjar will be the first minister of the present cabinet
to meet with Japanese government leaders since the formation of
the new coalition cabinet between the Liberal Democratic Party
(LDP), the Social Democratic Party (SDP) and the New Sakigake
Party in July.
During his visit, he will also meet with Japanese State
Minister for the Economic Planning Agency (EPA) Masahiko Komura,
Deputy Minister of Finance Kosuke Nakahira, President of the
Japanese International Cooperation Agency (JICA) Kimio Fujita
(also former Japanese Ambassador to Indonesia) and Governor of
Exim Bank Hiroshi
Yasuda.
Ginandjar will meet with Murayama on the last day of his visit.
He returns to Jakarta on Wednesday evening.
==========================
GERMAN GOVERNMENT EXPLORES COOPERATION WITH IRJA'S WW
Jayapura, Irian Jaya - The German government through its
embassy in Jakarta is seeking cooperation with the World Wild
Fund (WWF) in Irian Jaya (Irja) in a bid to develop Lorentz
national park into an interesting tourism destination in the
province.
Head of local Regional Development Board (Bappeda)'s economic
section Rience Kawengian said here over the weekend the German
government has an aid program which allocates fund to save and
conserve environment such as national park as long as it has
legal basis.
Before developing the national park, he said, local authority
and related agencies are scheduled to conduct a feasibility study
of natural condition and ecosystem of the park.
Meanwhile, during a working visit to Irian Jaya, German
Ambassador to Indonesia Karl Walter Lewalter said here Saturday
his governmet at first wanted to find out status as well as
position of Lorentz on grounds that the park is almost adjacent
to a copper mine managed by the Freeport Indonesia Incorporated.
The 1,5 million-hectare Lorentz accomodates at least 34 kinds
of ecosystems, 639 kinds of birds, 154 kinds of mammals. The
national park is one out of three parks which have tropical
glaciers in the world.
Lorentz has nowadays become a place for domestic and foreign
experts to conduct research.
========================
RI HOLDS "INDONESIA SATELLITE CIRCUIT" TOURNAMENT
Surabaya, E Java - East Java will host the launch of the
international tennis tournament "Indonesia Satellite Circuit", to
be held from August 21 to 28, at the Brawijaya tennis courts
here, a spokesman said.
"It is a prestigious tournament which attracts many foreign
tennis players," director of the tournament Imam Suhadi told
reporters here Monday.
He said that this year's tournament, which will have only
male participants, will be divided into four series in Sura-
baya, Semarang and Bandung, with the finals scheduled to be held
in Jakarta.
According to Suhadi, cash prizes for the tournament total
US$ 25,000.
He said that the number of tournament participants has
increased this year due in part to players' eagerness to get
competition experience in a bid to be ranked by the Professional
Tennis Association (ATP).
==========================
RI STUDENTS IN JAPAN TO HOLD "SCIENTIFIC ENCOUNTER"
Tokyo - The Indonesian Students Association (PPI) in Japan is
to hold a "Scientific Encounter" event early September here where
a science writing contest will be conducted for Indonesians
studying in Japan.
Coordinator of the event, Suhono Supangkat, told ANTARA
Sunday that the planned activity was greatly welcomed by Indone-
sian students from Hunshu to Hokkaido.
"This is the 3rd science-related event that has been orga-
nised by PPI here although it will be its first to hold a science
writing contest," Suhono said.
So far 37 entires have been submitted by some 37 students
already, covering topics on economics, science, technology,
agriculture and energy among others, he added.
He said that based on the entries alone, the students show
some seriousness in bringing up their thoughts on a wide range of
subjects like education, industrialisation strategy, energy,
information network infrastructure, bio-technology, industry,
agriculture and urban housing planning.
The event, he said, is aimed to become an information ex-
change forum for Indonesians here partly to contribute to the
process of development in Indonesia.
==============================
CONGRESS FEARS PRIMATES WILL LOSE NATURAL HABITAT
Kuta, Bali - Speakers at the 15th congress of International
Primatology Society (IPS) entering its seventh day here Sunday
voiced fear that a decrease in the size, and change in the func-
tion, of forests would lead to primates losing their habitat.
Ardith A. Eudey of the United States Primatologists Association
and Tulus Sibuea of the Padjadjaran University in Bandung shared
the view that the loss of natural habitat as a result of the
exploitation of forests posed an obstacle to the conservation of
primates. "The decrease in the size of natural habitat and
the exploitation of forests are the consequence of fast economic
growth in the Asia Pacific region especially the East and South-
east Asian regions," Eudey said. The Action Plan for Asian
Primate Conservation of the IPS, Eudey said, had contributed to
the national conservation of primates. Sibuea, meanwhile,
noted that the increasingly narrower forests as a result of
forest exploitation posed a major obstacle to the conservation of
primates, causing them to lose their habitat. He proposed
the conservation of these animals under the so-called "agrofor-
estry system" which he said would not only support conservation
but also give added value to nearby farming. Sibuea, quoting
the result of research in a resin plantation in Krui, Lampung,
said the system could prolong the survival of primates and in-
crease their population, thus showing that nearby farmers could
contribute to the primates conservation.
Siamang
Hario Tabah Wibisono also from Indonesia urged that those who
destroy forests should be held responsible for a decrease in the
population of primates.
Because of destruction, the size of forests in Sumatra which
serve as the habitat of "siamang" (hylobates syndactylus), had
dropped to 120,000 sq km from 340,000 sq km and that as the
habitat of "ungko" (hylobates agilisi) to 170,000 sq km from
500,000 sq km.
He underlined the need for the conservation of "siamang"
which is to be found only in Sumatra and "ungko" only in Sumatra
and Kalimantan.
The congress, which was officially opened by Forestry Minis-
ter Djamaludin Suryohadikusumo and attended by 600 scientists
from 48 countries, will end on Monday.
========================
GERMAN GOVERNMENT EXPLORES COOPERATION WITH IRJA'S WWF
Jayapura, Irian Jaya - The German government through its
embassy in Jakarta is seeking cooperation with the World Wild
Fund (WWF) in Irian Jaya (Irja) in a bid to develop Lorentz
national park into an interesting tourism destination in the
province.
Head of local Regional Development Board (Bappeda)'s economic
section Rience Kawengian said here over the weekend the German
government has an aid program which allocates fund to save and
conserve environment such as national park as long as it has
legal basis.
Before developing the national park, he said, local authority
and related agencies are scheduled to conduct a feasibility study
of natural condition and ecosystem of the park.
Meanwhile, during a working visit to Irian Jaya, German
Ambassador to Indonesia Karl Walter Lewalter said here Saturday
his governmet at first wanted to find out status as well as
position of Lorentz on grounds that the park is almost adjacent
to a copper mine managed by the Freeport Indonesia Incorporated.
The 1,5 million-hectare Lorentz accomodates at least 34 kinds
of ecosystems, 639 kinds of birds, 154 kinds of mammals. The
national park is one out of three parks which have tropical
glaciers in the world.
Lorentz has nowadays become a place for domestic and foreign
experts to conduct research.
========================
INDONESIA BADMINTON OPEN 1994 GUARANTEED TO BE SAFE AND ORDERLY
Yogyakarta, Aug. 7 (ANTARA) - The organizer of the Indonesia
Badminton Open 1994 gave assurance on Sunday that the event would
run safely and orderly despite the big number of expected specta-
tors.
Sulistyo, the chief organizer, said that the spectators'
seats and the court had been arranged in such a way to assure
orderliness.
He said the position of the seats and the court and the
distance between them have been arranged in such a way to make it
impossible for spectators to enter the court.
The August 10-14 event in Central Java's old town of Yogya-
karta which offers US$166,000 in total prize will take place in
Among Rogo Hall which is able to accomodate 2,500 people.
This will the biggest badminton event ever in the city.
VIP tickets are being sold at Rp50,000 (US$25) while the
ordinary tickets at Rp3,000 (US$1.5).
With these prices Sulistyo said he was confident that only
serious fans would come to see the event.
Absence
Meanwhile the Secretary General of All Indonesia Badminton
Asscociation (PBSI) RAJ Gozal said, the absence of several world
players will not reduce the significance of the Indonesia Open to
take place here from August 10 to 14.
The absence of top shuttlers from Malaysia and China in the
badminton championship is merely due to their concentration on
other world events and does not reflect on the significance of
the Indonesia Open in any negative way, he commented here Sunday.
It has been confirmed that top players Ye Zhaoying and Dong
Jiong of China, and Rashid Sidek and Ong Ewe Hock of Malaysia
will not appear in Yogyakarta.
But as Gozal emphasized many other aces including Bang Soo
Yun (South Korea), Tan Jiuhong, Lie Yuhong, Liem Xiaoming
(China), Catherine Bengstone, Liem Xiaoqing (Sweden), Susi Susan-
ti and Mia Audina will take part in the event that offers a total
prize of US$166,000.
In the men's singles, Indonesia will field Joko Suprianto,
Alan Budikusuma, Hermawan Susanto, Ardy B Wiranata, Hariyanto
Arbi, and Denmark will present Thomas Stuer-Lauridsen, while
Thailand and South Korea will be represented by Sompol Kukasemkij
and Kim Hak Kyun respectively.
At the semi-finals of the 1994 World Championship on August 8
in Ho Chi Minh city, Vietnam, Stuer-Lauridsen defeated Joko
Suprianto so that Indonesia failed to attain an all Indonesia
final at the event.
Meanwhile, honorary representative of the International
Badminton Federation (IBF) Ian Palmer said the absence of foreign
top players will not reduce the quality of the Indonesia Open as
all Indonesian aces will play.
He said IBF could not take measures on the IBF countries that
does not participate in the championship with acceptable reasons.
==========================ENDS============================