From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Forwarded message:
From A.Sumule@uqvax.cc.uq.oz.au Sat May 7 05:04 EDT 1994
From: A.Sumule@uqvax.cc.uq.oz.au
Date: Sat, 7 May 1994 19:02:49 AEST
Subject: Hukum Rotan, "Pekerjaan Tangan", dan Tembak Mati Penjahat
To: apakabar@clark.net
Cc: indoz-net@cc.utas.edu.au, a.sumule@uqvax.cc.uq.oz.au, IDS@suvm.acs.syr.EDU
Message-id: <01HC2FQXHMDUA9L5AX@uqvax.cc.uq.oz.au>
X-Envelope-to: apakabar@clark.net
X-VMS-To: IN%"apakabar@clark.net"
X-VMS-Cc: IN%"indoz-net@cc.utas.edu.au", IN%"a.sumule@uqvax.cc.uq.oz.au",
IN%"IDS@SUVM.SYR.EDU"
MIME-version: 1.0
Content-transfer-encoding: 7BIT
Content-Type: text
Content-Length: 5221
BBC-Indonesia dalam siarannya semalam (Jumat, 6 Mei 1994) memuat
berita-berita menarik tentang hukum dan kriminalitas di Indonesia,
baik dalam rubrik "Dunia Hari Ini", maupun "Perundang-undangan
dalam Praktek". Ada tiga hal yang sempat tercatat: (1) Kapolri
mempertimbangkan penerapan hukuman cambuk dengan rotan di Indonesia;
(2) wawancara dengan Wagiman Koto, pencopet kawakan yang sering
`mangkal' di terminal Semarang -- tetapi yang menyebut profesinya
itu sebagai "pekerjaan tangan"; dan (3) operasi anti kejahatan
yang dilakukan oleh Polda Jakarta Raya. Berikut ringkasan-ringkasan
berita ini.
Hukuman Rotan
=============
Setelah seorang remaja Amerika dihukum cambuk dengan rotan
di Singapura karena terbukti melakukan `vandalisme', mulai ada diskusi
di sementara kalangan di Indonesia tentang apakah tidak sebaiknya
hukuman cambuk itu juga diterapkan di Indonesia. Kapolri dikutip sebagai
menyambut baik gagasan ini, dan menilainya sebagai salah satu
alternatif untuk memberantas tindakan-tindakan kriminal yang mengganggu
ketentraman masyarakat umum.
BBC Indonesia menghubungi Ketua Komisi I DPR RI (seorang ibu --
maaf tidak tercatat namanya, dari Fraksi PPP) meminta tanggapannya
mengenai hal ini. Menurut anggota DPR tersebut, sikap Kapolri itu tidak
bisa serta merta dianggap sebagai sinyal akan dilaksanakannya hukuman
cambuk dengan rotan di Indonesia. "Kita perlu studi dulu dengan seksama.
Mungkin kita malah perlu ke Malaysia dan Singapura yang sudah lebih
berpengalaman melaksanakan hukuman rotan ini. Harus kita yakini dulu
apakah memang cara ini ampuh untuk memerangi kejahatan. Kalau memang
ampuh, baru kita susun perundang-undangannya". Tentang sikap PPP
mengenai hukuman rotan ini, demikian komentar beliau, "PPP sebagai
partai politik perlu menyerap aspirasi masyarakat sebelum membuat
sikap. Kita tunggu saja dulu!"
"Pekerjaan Tangan" Wagiman Koto
===============================
Wagiman Koto diwawancarai wartawan (bukan wawancara langsung
via telepon dengan BCC-Indonesia di London, tetapi rekamannya disiarkan
langsung) di terminal bus Semarang. Pertama-tama ditanyakan mengapa
ia menjadi pencopet. Berikut keterangan Wagiman, "Mas ..., saya putus
sekolah dari STM, dan karena susah mencari pekerjaan, yah ... terpaksa
saya berusaha dengan `pekerjaan tangan' ini". Rupanya si wartawan
tidak faham apa itu `pekerjaan tangan', sehingga bertanya balik, "Maksud
mas Wagiman dengan `pekerjaan tangan' itu apa?" "Ya ... mencopet itulah,
mas, he...he..", jawab Wagiman.
Wagiman juga ditanya soal "Petrus" yang konon sudah mulai
lagi, dan bagaimana ia menyelamatkan diri ketika "Petrus" beraksi beberapa
tahun lalu. "Wah.., mas, kalau `Petrus' saya betul-betul takut, mas.
Waktu `Petrus' mulai dulu, saya baru saja berumur 18 tahun. Saya
sudah 2 tahun `kerja' waktu itu. Karena kata orang yang dicari-cari
itu yang bertato, tato di tangan dan di punggung saya, saya setrika.
Karena masih kuatir juga, saya lari ke Riau dan sembunyi di kampung-
kampung di sana selama 4 tahun. Baru sesudah agak aman saya kembali
lagi ke sini, dan mulai lagi `kerja'".
Tentang mengapa Wagiman memilih "pekerjaan tangan" sebagai profesi,
dan berapa penghasilannya, berikut ringkasan jawaban Wagiman. "Mas ...,
lantas saya mau bagaimana lagi! Saya perlu makan. Jadi, terpaksa
ya ..., kerja copet ini saja. Saya biasa beroperasi di terminal dan dalam bis
rute Semarang -- Yogyakarta. Ya ..., sekali operasi bisa sampai
Rp 50.000,- yang saya dapat. Masak orang kayak saya ini yang ditembak,
mas! Kalau mau ditembak, ya ..., koruptor-koruptor itulah!"
Operasi Anti Kejatan di Wilayah Jakarta
=======================================
Polda Jaya rupanya tidak tanggung-tanggung dalam usahanya
memerangi kejahatan yang dinilai sudah sangat meningkat belakangan ini.
BBC-Indonesia memberitakan, bahwa sekitar 16,900 anggota polisi dilibatkan
dalam operasi ini. Sejak operasi ini dilancarkan, tercatat sudah 56 pelaku
kejahatan tertembak mati. Alasan yang diberikan polisi adalah bahwa
para pelaku kejahatan itu menolak untuk menyerah, bahkan mengancam
keselamatan petugas.
Yang menarik, demikian BBC-Indonesia, tidak seperti "Petrus"
di waktu lalu, Polda Jaya mengakui terus terang adanya operasi ini.
"Siapa yang melawan, kita sikat, -- kalau menyerah, kita proses!",
tandas sumber di Polda Jaya.
Marzuki Darusman, anggota Komnas HAM, dihubungi BBC-Indonesia
per telepon jarak jauh untuk dimintai tanggapannya mengenai operasi
anti kejahatan ini. "Begini ..., lepas dari efektif atau tidaknya
operasi ini dalam memberantas kejahatan, yang jelas Komnas HAM tidak
menyetujui cara-cara yang dilakukan di luar hukum dan perundang-undangan
yang berlaku. Hak tiap orang harus dijamin sesuai hukum yang kita
miliki. Memang, kami belum berdialog langsung dengan pihak POLRI
mengenai hal ini. Berita-berita yang kami terima pun masih dari
koran sumbernya".
___________________________________________________________________________
AGUS SUMULE A.SUMULE@cc.uq.edu.au
AGRICULTURE
The University of Queensland Telephone +61 7 870 9996
Brisbane Qld 4072 AUSTRALIA Facsimile +61 7 365 1199